RADARSOLO.COM — Pemkot Solo segera menyalurkan 117 pencari kerja yang ikut serta pada kloter pertama Program Rumah Siap Kerja Bersama Kota Surakarta 2025.
Program ini akan terus dilakukan dengan harapan sasaran yang lebih besar.
Wali Kota Solo Resapti Ardi membenarkan, bahwa pihaknya mulai merealisasikan program itu setelah mendapatkan restu dari DPRD Kota Solo.
Khususnya untuk melaksanakan link and match lowongan dan pencari kerja di semester kedua tahun ini. Sedikitnya ada 117 warga Solo yang ditatar untuk kemudian disalurkan di tempat kerja masing-masing.
"Ini gelombang pertama sejak disetujui DPRD, 117 orang yang tersalurkan. Penempatannya macam-macam, tergantung minat bakat yang disesuaikan dengan dunia industri. Ada hotel, administrasi IT, pramugari-pramugara, dan keluar negeri seperti ke Jepang," terangnya, Kamis (9/10).
Saat ini ke-117 pencari kerja yang terdaftar dalam program itu mulai menjalankan pelatihan yang dibutuhkan sebelum mulai melakoni tugas dan kewajiban di dunia kerja.
Saat pelatihan rampung, peserta akan dilengkapi dengan Kartu Layak Kerja sebagai identitas para pencari kerja.
Kartu ini memuat identitas diri dan sebagai simbol bahwa mereka telah melewati proses pelatihan yang diperlukan.
Manfaat lainnya peserta akan mendapat berbagai jaminan, seperti jaminan ketenagakerjaan hingga jaminan untuk tenaga migran yang hendak berangkat ke luar negeri.
"Kedepan jumlahnya kita tiga kali lipatkan dengan anggaran Rp 5 miliar. Prioritasnya warga dari desil 1-5 di DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional). Soal berapa besar mengurangi angka pengangguran? Biasanya penurunannya itu 1 persen per tahun, kami kerja keras untuk ini," papar Respati.
Sekadar informasi, 117 pencari kerja itu mengikuti sosialisasi Pembukaan Pelatihan Kerja, Program Rumah Siap Kerja Bersama Kota Solo 2025 yang dihelat di Balai Kota Solo sejak pagi hingga siang.
Sandi Adiarto Saputra yang ditemani ibunya mengungkapkan, awal mulanya dia dapat info dari disnaker ada seleksi dan wawancara, kemudian ada tes kesehatan.
Selanjutnya disalurkan ke Fujiyama (nama perusahaan atau pihak ketiga dari Jepang).
"(Pelatihannya, Red) setiap hari diajarkan bahasa Jepang sesi 1-4. Kebetulan memang ingin belajar ke Jepang karena selain itu juga pengen tahu budaya di sana," terang Sandi Adiarto Saputra.
Sang ibu, Mei Dani Puspita Sari pun merasa bersyukur putranya segera bisa berangkat bekerja ke luar negeri.
"Awalnya dulu itu saya ikut tes kesehatan gratis di sini (balai kota), kebetulan ada mas wali, lalu saya tanya-tanya apakah ada program kerja. Setelah itu saya di WhatsApp dan diinfokan untuk program pelatihan yang bisa diikuti anak saya ini," bebernya. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy