RADARSOLO.COM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Solo telah menyasar 18 ribu pelajar SD dan SMP. Pemerintah Kota Solo memastikan pelaksanaan program berjalan fleksibel, termasuk memberikan ruang bagi sekolah yang sudah memiliki program serupa untuk tidak ikut serta.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta Dwi Ariyatno mengatakan, kebijakan ini dilakukan agar program lebih tepat sasaran.
Baca Juga: 1.200 Murid SMKN 1 Mojosongo Boyolali Puasa Nikmati MBG, SPPG Ungkap Sebabnya
“Kalau ada sekolah yang sudah punya program sejenis dengan kualitas serupa atau lebih baik, misalnya dari swadaya dan kontribusi masyarakat, tidak masalah jika menolak. Tinggal dilaporkan ke dinas,” ujarnya, Jumat (10/10/2025).
Dwi menjelaskan, laporan dari sekolah yang menolak MBG akan ditindaklanjuti dengan evaluasi. Jika program gizi di sekolah tersebut dinilai sudah baik, maka jatah bantuan akan dialihkan ke sekolah lain yang belum menerima.
“Kami akan usulkan ke pengelola MBG agar dialihkan ke sekolah yang belum tersasar dan lebih membutuhkan,” imbuhnya.
Saat ini, program MBG di Solo melibatkan enam Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG) yang masing-masing mampu melayani antara 3.000–3.600 porsi makanan sehat per hari. Keenam SPPG tersebut meliputi: SPPG Laweyan Purwosari 1 dan 2, SPPG Jebres, SPPG Banyuanyar 1 dan 2, SPPG Gilingan, SPPG Penumping Laweyan 1, serta SPPG Banjarsari Nusukan.
Baca Juga: Cerita Korban Keracunan MBG di Tawangmangu Karanganyar, Nasi Goreng Berbau Sabun
Wali Kota Solo Respati Ardi menegaskan bahwa prinsip utama program MBG adalah kebermanfaatan dan pemerataan.
“Kalau memang ada sekolah yang orang tuanya lebih dari 50 persen tidak menerima, bisa dialihkan ke sekolah lain yang lebih membutuhkan. Yang penting tepat sasaran,” tegasnya.
Program nasional ini diharapkan dapat membantu pemenuhan gizi anak sekaligus mendukung konsentrasi belajar siswa di sekolah. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno