RADARSOLO.COM — Suara gamelan mengalun lembut di Graha Saba Buana, Selasa (14/10), mengiringi riuh semangat ribuan siswa yang duduk berbaris rapi. Di tangan mereka, kertas putih dan pena siap menorehkan sejarah.
Dari ujung Pantura hingga lereng Merapi, 1.120 siswa SD dan SMP se-Jawa Tengah serempak menulis geguritan—puisi berbahasa Jawa—dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025.
Bukan sekadar lomba, kegiatan ini mengukir tinta emas. Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) resmi mencatatnya sebagai penulisan geguritan terbanyak secara serentak. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan, menyatu dengan senyum bangga para guru, orang tua, dan panitia yang menyaksikan momen bersejarah itu.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dwi Laily tampak haru ketika menyampaikan sambutan. “Kegiatan ini bertujuan agar peserta didik mencintai, memahami, sekaligus mengembangkan bahasa Jawa sebagai bagian dari identitas budaya,” ujarnya dengan nada mantap.
Semangat yang sama juga disampaikan Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, yang membuka kegiatan tersebut. Dengan kebaya merah marun dan senyum hangat, ia menuturkan, “Harapan kami, FTBI bisa terus berkelanjutan dan menjadi wadah yang mempertemukan kreativitas, pendidikan, dan kebudayaan.”
Di antara lautan seragam putih-biru, Naira, siswi SMPN 7 Solo, terlihat menggenggam puisinya erat. Matanya berbinar ketika menceritakan pengalamannya.
“Senang bisa nulis geguritan bareng teman-teman se-Jawa Tengah. Semoga bahasa Jawa makin dikenal lan pelajar Solo bangga nguri-uri budayane,” tuturnya, tersipu bangga. (alf/bun)
Editor : fery ardi susanto