RADARSOLO.COM - Sekilas bangunan ini tak nampak seperti sebuah tempat ibadah. Berdiri di tengah perkampungan padat Laweyan, sebuah bangunan mungil bernuansa terang itu mencuri perhatian.
Lima pilar tegak dengan pola geometris rapi menghadirkan nuansa teduh sekaligus visual yang menyejukkan mata.
Musala Ar-Rayan, begitulah warga sekitar menyebut bangunan itu. Meski berukuran di Laweyan, Kota Solo ini tak begitu besar, namun tata letak dan rancangan bangunannya sarat pesan.
Setiap garis, celah, dan tekstur di dindingnya sengaja tidak dibuat sempurna. Mengapa demikian?
"Garis-garis di tembok ini memang sengaja dibuat tidak sempurna. Mengingatkan manusia bahwa tidak ada yang sempurna. Sempurna hanya milik Allah," jelas sang desainer interior, Lorca Langit Biru, Kamis (16/10/2025).
Setiap elemen bangunan dirancang dengan filosofi tertentu. Lima pilar pada fasad depan melambangkan Rukun Islam.
Sementara empat ruang di antara pilar merepresentasikan empat bulan yang dimuliakan dalam Islam, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Ada delapan pintu akses di samping kanan dan kiri bangunan. Empat di antaranya melambangkan unsur-unsur penciptaan manusia dalam pandangan Islam, yakni api, udara, tanah, dan air.
Sisanya melambangkan unsur ghaib manusia, yang terdiri dari nafsu, akal, hati, dan ruh.
Begitu masuk ke musala, mata langsung ditujukan pada 19 tiang kabinet di bagian depan. Yang melambangkan kalimat suci
“Bismillahirrahmanirrahim.”
"Jumlah huruf dalam kalimat ini adalah 19, dan angka 19 menjadi salah satu keajaiban numerik Al-Qur’an," sambung Lorca.
Masuk lagi ke dalamnya, akan tampak dua kubah. Dalam filosofi Jawa, angka “dwi” (dua) berarti keseimbangan. Masing-masing kubah terdiri dari 17 lapisan. Kubah pertama melambangkan 17 rakaat salat wajib harian.
Kubah kedua menggambarkan 17 rakaat salat rawatib, sebagai penyempurna ibadah harian.
"Terdapat enam ruang pada kabinet bagian dalam yang melambangkan Rukun Iman, menegaskan pentingnya pondasi keyakinan dalam kehidupan beragama," paparnya.
Menariknya lagi, bangunan ini juga mempunyai tujuh kolom utama, yang merepresentasikan tujuh masa kehidupan manusia.
Mulai dari Radli (masa menyusui), Fathim (masa penyapihan), Shabiy (masa kanak-kanak), Ghulam (masa remaja), Syab (masa pemuda), Kahl (masa dewasa), hingga Syaikh (masa tua).
"Filosofi ini mengingatkan bahwa setiap fase hidup memiliki nilai dan makna yang harus disyukuri," tambahnya.
Bangunan ini juga melibatkan falsafah Jawa. Buktinya, Lorca menggunakan atap rendah dan andhap asor.
Belum lagi ditambah motif batik Kawung yang melapisi dinding interior yang menambah nuansa Jawa.
Butuh waktu sekira setengah tahun untuk membangun musala ini. Lorca sendiri menamai karya ini dengan judul "Prayer Space". Setelah dibangun, pengelolaan musala diserahkan kepada warga masyarakat sekitar dan diberi nama Mushala Ar-Rayan.
Atas keunikan dan kebermanfaatannya, The Prayer Space menyabet penghargaan Australian Good Design Award Gold Winner 2025 untuk kategori Built Environment.
Penghargaan ini diberikan kepada proyek yang dinilai oleh dewan juri memiliki keunggulan luar biasa dalam aspek desain, inovasi, serta dampak positif bagi masyarakat.
"Prayer Space di Solo, Indonesia, menggabungkan religi, kebudayaan dan keberlangsungan lingkungan dalam sebuah ruang multifungsi, sebagai tempat ibadah, pendidikan dan ruang interaksi masyarakat. Eksekusinya indah dan diperkuat dengan kesederhanaannya," kata dewan juri.
Baca Juga: Erick Thohir Buka Suara soal PSSI Akhiri Kerja Sama dengan Patrick Kluivert dari Timnas Indonesia
"Skala bangunan yang dibuat selaras dengan lingkungan sekitarnya, tidak mengurangi makna dan “kehadiran” Prayer Space sebagai bangunan publik yang penting. Transparansi dan keterbukaan bangunannya sangat diapresiasi. Sebuah karya yang indah dalam konteksnya dan memberi manfaat besar bagi masyarakat. Selamat kepada tim atas pencapaian ini, luar biasa!” pungkas mereka.
Ini bukan penghargaan pertama yang diraih Lorca Biru. Dalam rentang 5 tahun ini, Lorca sudah tiga kali meraih penghargaan Good Design Award, dengan predikat Gold Winner, yakni pada tahun 2020 - untuk proyek Store+, kategori Product Design Furniture and Lighting, tahun 2022 - untuk proyek Limasan House, kategori Architectural Design Residential (Interior Design) dan tahun 2025 - untuk proyek The Prayer Space, kategori Built Environment. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy