RADARSOLO.COM — Suasana penuh semangat kebersamaan terasa di halaman RS Panti Waluyo Surakarta, Sabtu (18/10).
Rumah sakit legendaris di Kota Bengawan itu merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-88 dengan cara yang tak biasa, kali ini menggandeng para penyandang disabilitas dalam Pameran UMKM Disabilitas Kelurahan Kerten serta Lomba Memasak Snack Sehat.
Perayaan kali ini bukan sekadar seremoni. Ada pesan mendalam yang ingin disampaikan: setiap orang, tanpa kecuali, berhak mendapatkan ruang untuk tumbuh dan berdaya.
Direktur RS Panti Waluyo drg. Titis Pamungkas menyebut, angka 88 sebagai simbol kebersamaan dan semangat untuk terus melayani masyarakat secara inklusif.
“Tahun ini rumah sakit kami berusia 88 tahun. Angka 8 itu mirip huruf B, jadi kami maknai sebagai BB — Bareng-Bareng melayani pasien dengan baik, termasuk pasien disabilitas. Semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak,” jelas Titis.
RS Panti Waluyo, yang telah dinilai sebagai rumah sakit ramah disabilitas oleh Rumah Sakit Online, bertekad memperluas makna pelayanan hingga ranah pemberdayaan ekonomi.
Melalui lomba snack sehat, para peserta disabilitas bukan hanya diberi panggung untuk unjuk karya, tapi juga peluang berkelanjutan.
“Pemenangnya akan kami jaring untuk menjadi pemasok makanan ringan bagi pasien. Jadi tidak sekadar berpartisipasi, tapi juga bermitra secara nyata,” ujarnya.
Titis menambahkan, memasuki usia ke-88, pihaknya fokus memperkuat mutu layanan, terutama di bidang IGD, bedah saraf, dan urologi.
“Kami belajar bahwa ketika taat regulasi, layanan akan berjalan baik. IGD adalah poros utama yang kini kami benahi,” imbuhnya.
Ketua Panitia sekaligus Kepala Humas RS Panti Waluyo Arinda Weddinia menjelaskan, kerja sama dengan komunitas disabilitas sudah terjalin sejak 2020 bersama Yayasan Yakkum. Tahun ini, langkah tersebut naik kelas: dari pendampingan menuju kemitraan ekonomi.
“Kami dampingi teman-teman disabilitas sejak lama, salah satunya Bu Hermin dari Kerten. Tahun ini kami kembangkan lagi: pemenang lomba akan menandatangani kerja sama sebagai supplier makanan pasien,” tutur Arinda.
Selain menjadi ruang ekonomi, kegiatan ini juga menjadi ajang edukasi gizi. Tim ahli gizi RS Panti Waluyo turut mendampingi peserta dalam memahami standar makanan sehat. Mulai dari kadar gula, minyak, hingga teknik pengolahan.
Wali Kota Solo Respati Ahmad Ardianto, yang hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi tinggi. Dia menilai RS Panti Waluyo telah menjadi teladan nyata kolaborasi antara dunia kesehatan dan pemberdayaan sosial.
“Saya bangga, karena rumah sakit ini tidak hanya fokus pada layanan medis, tapi juga memberdayakan masyarakat, khususnya teman-teman disabilitas. Ini sejalan dengan visi kelurahan inklusi di Kota Surakarta,” kata Respati.
Respati juga mengenang kedekatannya dengan rumah sakit itu yang dikenal ramah dan penuh kepedulian sejak lama.
“Sejak dulu saya sering datang ke sini. Pelayanannya bagus, bersih, dan penuh empati. Tahun ini juga spesial karena angka 88 sama dengan tahun kelahiran saya,” ujarnya sambil tersenyum.
Dia menegaskan bahwa Pemkot Surakarta siap bersinergi dengan RS Panti Waluyo dalam hal pendampingan gizi, pelatihan disabilitas, dan perluasan tenaga ahli kesehatan.
“Kita butuh banyak tenaga gizi dan lembaga yang membuka ruang kerja bagi penyandang disabilitas. Regulasi satu persen tenaga kerja disabilitas harus benar-benar dijalankan,” tegasnya.
Pameran UMKM disabilitas yang digelar di Pendapa Kelurahan Kerten diikuti sekitar 10 pelaku usaha dengan produk andalan berupa makanan olahan dan kerajinan tangan.
Dari ruang sederhana itu, semangat inklusi dan kebersamaan kembali mengalir, yakni menjadi bukti bahwa melayani masyarakat bukan hanya tugas rumah sakit, tapi panggilan kemanusiaan. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy