Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tak Sekadar Gaya, Ini Makna di Balik Gowes Batik Bike to Work Solo

Arief Budiman • Minggu, 19 Oktober 2025 | 01:10 WIB

 

 

KOMPAK: Anggota Bike to Work berkeliling kota Solo menyambut Hari Batik Nasional, Sabtu (18/10).   
KOMPAK: Anggota Bike to Work berkeliling kota Solo menyambut Hari Batik Nasional, Sabtu (18/10).  

RADARSOLO.COM - Ada pemandangan berbeda di jalanan Kota Bengawan akhir pekan kemarin. Ratusan pesepeda tampak beriringan menyusuri kota sambil mengenakan batik. Bukan sekadar gaya, gowes kali ini digelar dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober.

Agenda bertajuk Gowes Batik itu diinisiasi oleh Bike to Work Indonesia dan tahun ini dipusatkan di Kota Solo. Kegiatan berlangsung, kemarin (18/10) dan diikuti oleh berbagai komunitas sepeda dari berbagai daerah.

Marshal sekaligus panitia acara, Andi Sukmawan mengatakan, Solo dipilih karena memiliki identitas kuat sebagai Kota Batik.

 “Acara ini dalam rangka memperingati Hari Batik. Tahun ini Bike to Work Indonesia memusatkan agendanya di Kota Solo. Kami dari Bike to Work Solo yang menyelenggarakan, dan kebetulan juga digabung dengan misi batik di Laweyan,” ujar Andi kepada Jawa Pos Radar Solo.

Peserta datang dari berbagai daerah, meski sebagian besar merupakan pesepeda dari Solo Raya.

“Peserta sebenarnya terbatas. Kami alokasikan 100 orang, tapi permintaan membludak. Angka terakhir yang ikut mencapai 126 peserta,” katanya.

Menariknya, tak hanya komunitas Bike to Work yang ikut serta. Beberapa komunitas pesepeda lain seperti Surya Pro, Seli Solo, Ngiplik Mania, SSR, dan WCC juga turut memeriahkan kegiatan ini.

Sesuai tema, seluruh peserta diwajibkan mengenakan busana batik sebagai dress code. Rute gowes dimulai dari Balai Kota Surakarta, melintasi perempatan Widuran, menuju Warung Pelem, Sudiroprajan, Ketandan, lalu Kraton Kasunanan Surakarta, sebelum akhirnya finis di Kampung Batik Laweyan.

Selain menjadi ajang peringatan Hari Batik Nasional, kegiatan ini juga membawa semangat kebersamaan antarpecinta sepeda. Andi mengaku, momen ini menjadi ajang reuni bagi banyak pesepeda yang sempat vakum pasca-pandemi.

“Dulu pas pandemi masyarakat booming bersepeda di berbagai kegiatan. Sekarang memang mulai menurun animonya. Tapi kami tetap optimistis, ke depan akan makin banyak masyarakat yang kembali bersepeda,” tuturnya.

Dia menambahkan, meski tren bersepeda tidak seramai dulu, semangat pesepeda sejati tidak pernah padam.

“Masalah booming atau fomo itu kan selera orang beda-beda. Yang pasti yang ikut kegiatan hari ini memang pesepeda sejati,” lanjutnya.

Ke depan, Bike to Work Solo berencana menggelar kegiatan serupa di kesempatan lain, menyesuaikan kondisi dan dukungan komunitas.

“Rencananya ada kegiatan lagi, tapi kita lihat kondisi dulu. Bike to Work Solo tetap akan bersinergi dengan pusat,” pungkas Andi. (rif/nik)

 

Editor : Niko auglandy
#bike to work #batik