RADARSOLO.COM — Tradisi panjang hasil asimilasi budaya antara era Hindu-Budha dan Islam hingga kini masih lestari di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Salah satu yang tetap dijaga adalah Hajad Dalem Mahesa Lawung, ritual adat tahunan yang digelar sebagai doa keselamatan dan tolak bala kerajaan.
Upacara sakral tersebut kembali dilaksanakan pada Senin (20/10) pagi, diawali dengan prosesi wilujengan di kompleks Siti Inggil Keraton Surakarta. Puluhan abdi dalem ulama bersama para abdi dalem lain tampak mempersiapkan berbagai ubo rampe sesaji, termasuk kepala kerbau jantan atau mahesa—simbol utama dalam ritual ini.
“Dalam upacara adat ini yang paling utama adalah sesaji kepala kerbau jantan yang belum pernah digunakan membajak sawah, beserta sesaji lain yang memiliki makna doa keselamatan,” ujar KGPHA Dipokusumo, adik Raja Paku Buwono XIII Hangabehi, di sela kegiatan.
Setelah doa bersama, rombongan membawa kepala kerbau menuju Alas Krendowahono, hutan lindung di perbatasan Kabupaten Sragen dan Karanganyar yang dianggap sakral.
Lokasi itu dipercaya sebagai kediaman Bathari Kalayuwati—sosok gaib pelindung Keraton Kasunanan. Kepala kerbau kemudian dikubur sebagai simbol persembahan dan penolak bala.
“Prosesi ini intinya untuk memohon keselamatan dan keseimbangan, tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun sejak ratusan tahun lalu,” imbuh Gusti Dipo.
Menurut catatan sejarah, ritual serupa sudah dikenal sejak masa kerajaan Hindu-Budha, khususnya di era Majapahit, dengan nama Wilujengan Nagari Raja Wedha.
Upacara ini dilakukan sebagai bentuk doa keselamatan negara dan rakyat.
Ketika kerajaan Islam berdiri di Jawa, tradisi tersebut sempat berhenti karena dianggap tidak sejalan dengan ajaran baru.
Namun, pada masa Kerajaan Demak, para wali seperti Sunan Kalijaga menghidupkannya kembali dengan penyesuaian makna dan nilai spiritual Islam yang lebih universal.
“Dulu disebut Wilujengan Nagari Mahesa Lawung. Di masa Demak, tradisi ini kembali dilakukan oleh orang Islam yang tetap menjaga identitas kejawen. Sejak itu, prosesi ini menjadi bagian dari ritual keraton dan dilestarikan hingga sekarang,” jelas Gusti Dipo.
Pelaksanaan Hajad Dalem Mahesa Lawung menjadi wujud nyata keberlanjutan tradisi Jawa yang memadukan nilai spiritual, sejarah, dan kearifan lokal dalam bingkai budaya Keraton Surakarta. (ves/bun)
Editor : Niko auglandy