RADARSOLO.COM - Program Satuan Penyedia Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Solo kini bukan hanya sekadar dapur besar untuk menyediakan makanan bergizi gratis bagi anak-anak sekolah.
Di balik hiruk-pikuk panci mendidih dan aroma nasi hangat yang mengepul setiap pagi, ada denyut ekonomi baru yang mulai berputar di tengah masyarakat.
Dari 852 tenaga kerja yang kini terlibat di 19 SPPG aktif di Solo, ternyata 628 orang di antaranya — atau 73,7 persen — adalah warga asli Kota Bengawan.
Angka itu bahkan melampaui target minimal penyerapan tenaga lokal sebesar 60 persen yang ditetapkan sebelumnya.
“Artinya, sebagian besar tenaga kerja lokal sudah terserap. Ini sesuai harapan Pak Wali, bahwa program ini tidak hanya memberi makan anak-anak sekolah, tapi juga membuka lapangan kerja,” ungkap Wakil Satgas MBG Kota Solo, Purwanti, Sabtu (25/10).
Satu unit SPPG rata-rata mempekerjakan sekitar 50 orang, terdiri atas 47 tenaga relawan dan 3 tenaga ahli.
Relawan menangani urusan dapur, distribusi, keamanan, dan kebersihan, sementara tenaga ahli fokus pada pengawasan gizi serta kualitas pangan.
“Bahkan tenaga ahli juga hampir 70 persen berasal dari Solo. Jadi pemberdayaan masyarakat ini memang nyata — baik dari sisi operasional maupun profesionalnya,” tambah Purwanti.
Ia menuturkan, proses rekrutmen diserahkan kepada mitra pengelola masing-masing SPPG. Namun, ada satu prinsip yang selalu dijaga: pemberdayaan warga sekitar lokasi dapur.
Masyarakat ikut terlibat langsung, mulai dari pendaftaran hingga proses seleksi yang melibatkan RT/RW setempat.
“Kita tetap dorong agar yang direkrut warga sekitar. Ibarat orang Solo bilang, pagar mangkok — supaya masyarakat ikut menjaga dan merasa memiliki,” ujarnya dengan senyum.
Namun, bukan hanya asal rekrut. Setiap calon pekerja juga harus melalui skrining kesehatan, memastikan mereka benar-benar sehat dan bebas dari penyakit menular sebelum turun ke dapur yang menyiapkan makanan untuk ribuan anak sekolah setiap hari.
Sementara itu, Koordinator SPPG Kota Surakarta, Priyo Widyastoko, menambahkan bahwa sebagian besar tenaga kerja di SPPG adalah ibu rumah tangga. Mereka kini memiliki penghasilan tambahan tanpa harus jauh meninggalkan rumah.
“Rata-rata usia pegawai maksimal 50 tahun. Jam kerja delapan jam per hari, dengan sistem upah layak sesuai kebijakan masing-masing SPPG,” jelas Priyo.
Menurutnya, program ini telah menciptakan efek berantai yang besar bagi masyarakat.
Tak hanya meningkatkan gizi anak-anak sekolah, tetapi juga menghidupkan ekonomi di tingkat akar rumput.
“Harapannya, program MBG ini tidak hanya berhenti di pemberian makan bergizi, tetapi juga membawa efek sosial dan ekonomi bagi masyarakat Solo,” tutup Priyo.
Perluas Jangkauan
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berkomitmen memperluas jangkauan MBG ke daerah lain.
Program ini dirancang agar siswa di berbagai wilayah mendapat akses makanan sehat yang setara.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan kolaborasi dengan platform digital akan mempercepat distribusi makanan.
Kemkomdigi siap menjadi penghubung agar sinergi ini berdampak nyata bagi masyarakat.
“Kementerian Komdigi siap menjadi penghubung untuk mendorong sinergi antara platform digital dan ekosistem kami, sehingga program ini dapat menyasar daerah-daerah yang membutuhkan,” ujar Meutya.(ves/nik)
Editor : Niko auglandy