Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Fenomena Baru, Banyak Sarjana di Solo Tak Percaya Diri Lamar Kerja, Respati Ardi Ungkap Fakta Mengejutkan

Silvester Kurniawan • Rabu, 29 Oktober 2025 | 20:40 WIB

 

Pemkot Solo gelar Job Fair di Pendapa Balai Kota, Rabu (29/10/2025).
Pemkot Solo gelar Job Fair di Pendapa Balai Kota, Rabu (29/10/2025).

RADARSOLO.COM – Angka pengangguran terbuka di Kota Solo masih menembus 12 ribu orang. Jumlah tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk segera dituntaskan.

Salah satu solusinya, lewat integrasi antara sektor pendidikan dan dunia kerja agar kebutuhan tenaga kerja dan kemampuan lulusan bisa sejalan.

Hal itu disampaikan Wali Kota Solo Respati Ardi saat ditemui di sela gelaran Job Fair di Pendapa Balai Kota, Rabu (29/10/2025). 

Dia menyebut, angka pengangguran di Kota Bengawan masih terbilang tinggi sehingga perlu langkah konkret agar masyarakat usia produktif dapat terserap optimal di dunia kerja.

“Angka pengangguran 12 ribu, ya kita berharap terus agar bisa maksimal terserap. Ke depan kita target agar bisa berkurang,” ujarnya.

Respati menilai, masih banyak pencari kerja yang kurang percaya diri menghadapi dunia kerja. Karena itu, pemerintah akan mendorong integrasi antara sekolah, perguruan tinggi, dan industri agar kebutuhan tenaga kerja bisa dipetakan sejak awal.

“Ini bukan salah dari para pencari kerja. Kita yang harus mengubah sistem, karena kita tidak pernah punya data lowongan yang dibutuhkan apa dan di dunia pendidikan apa. Jadi pendidikan karakter itu penting, agar anak-anak tidak memilih-milih pekerjaan,” jelasnya.

Dia menegaskan, link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja menjadi tantangan utama yang harus segera dijawab.

Sistem pendidikan, kata dia, harus mampu membentuk mental dan karakter kerja agar lulusan siap menghadapi kebutuhan industri yang terus berubah.

“Kami harus mengubah sistem pendidikan agar sesuai kebutuhan kerja. Pembinaan mental dan karakter sejak sekolah atau kuliah itu penting supaya siap di dunia kerja. Job Fair ini bisa jadi fakta nyata tentang kebutuhan industri,” imbuhnya.

Sementara itu, Hikmah, 26, pencari kerja asal Boyolali, mengaku masih kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai.

Lulusan Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu sudah melamar ke sepuluh perusahaan sejak dua tahun lalu, namun belum juga mendapat panggilan.

“Ini tadi sempat daftar, tapi umurnya sudah kelebihan. Kualifikasi pendidikan juga tidak cocok. Masih cari-cari yang pas,” ungkapnya.

Melalui Job Fair ini, Pemkot Solo berharap bisa membuka lebih banyak peluang kerja, sekaligus menjadi jembatan antara lulusan pendidikan dan industri agar angka pengangguran dapat ditekan secara bertahap. (ves/nik) 

Editor : Niko auglandy
#pengangguran #pemkot solo #Respati #pekerjaan