RADARSOLO.COM – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta menghadirkan rumah kedua bagi murid. Dengan konsep Sekolah Sahabat Keluarga, sekolah ini punya beragam program yang ramah anak serta melibatkan keluarga.
Hal itu mengantarkan SDIT Nur Hidayah Surakarta meraih penghargaan kategori Top Sekolah Islam Ramah Anak dan Lingkungan di Anugerah Pendidikan Radar Solo 2025 di The Sunan Hotel Solo, Selasa (28/10/2025).
Salah satu program unggulan mereka adalah “Duta Ramah Pagi” yang melibatkan guru, karyawan, serta siswa kelas 3–6 yang piket untuk menyambut murid di gerbang sekolah.
”Melalui sentuhan doa ketika murid menyalami guru akan menciptakan kebahagiaan. Orang tua yang mengantar pun jadi tenang. Sedangkan bagi murid bisa melatih kedisiplinan dan meningkatkan sosialisasi di tengah tantangan perkembangan teknologi,” ujar Kepala SDIT Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi.
Sekolah juga menerapkan “Majelis Pagi” sebagai sarana penanaman karakter yang dipandu wali kelas sesuai tema bulanan dalam program Bulpen (bulan peningkatan) Karakter.
”Sebelum KBM (kegiatan belajar mengajar, Red) dimulai, murid berdoa bersama, kemudian guru menyapa untuk refleksi kegiatan murid di rumah. Seperti membantu ayah bundanya. Ini bentuk social emotional education,” imbuhnya.
Majelis pagi turut mencakup pembelajaran Alquran dengan target hafalan 3 juz di kelas 6. Didukung 25 guru Alquran dengan pembelajaran tahsin di kelas 1-3 dan penguatan hafalan Alquran pada kelas berikutnya.
”Hafalan ini menjadi bekal mereka, ditunjang pembelajaran bahasa Inggris dan Arab sejak kelas 1. Lulusan kami tahun lalu ada yang sampai tujuh juz. Bahkan, ketika Februari kebanyakan murid kami sudah dapat sekolah atau pesantren,” ujarnya.
Pergantian jam diikuti dengan istirahat yang bisa dimanfaatkan murid untuk ke kantin, perpustakaan, masjid, ataupun playzone. Hal ini untuk menyiasati agar murid tetap fokus belajar hingga sore hari sebagai full day school.
Untuk membiasakan hidup sehat dan mandiri, sekolah menerapkan smart card kantin sebagai alat transaksi sekaligus presensi perpustakaan.
Sekolah berupaya ramah terhadap potensi, minat, dan bakat murid melalui berbagai ekstrakurikuler yang disediakan. Mulai dari Pramuka, Taekwondo, robotik, jurnalistik, kewirausahaan, nasyid, wushu, dan lainnya.
”Imbasnya adalah prestasi nonakademik dari lomba-lomba. Seperti lomba MAPSI tahun ini kami juara umum di tingkat kecamatan dan tengah persiapan untuk jenjang Kota,” urainya.
Termasuk kegiatan kokurikuler dengan pembelajaran di luar kelas, seperti outbound atau kunjungan ke tempat-tempat edukatif lainnya. Kemampuan hidup dasar seperti mencuci kaos kaki dan melipat baju diajarkan sejak kelas 1 dan 2.
Tak hanya fokus pada murid, sekolah juga aktif membangun kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat melalui Paguyuban Orang Tua Murid dan Guru (POMG), pengajian keluarga, sedekah warga, hingga pembagian daging kurban.
Hal ini menegaskan pentingnya tri pilar pendidikan, yakni sekolah, orang tua,dan masyarakat guna menyukseskan proses pendidikan anak. (zia/adi)
Editor : Adi Pras