RADARSOLO.COM- Pendhapa Agung K.G.PH Djojo Kusuma Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta depunuhi berbagai kegiatan, Sabtu (1/11/2025).
Kelir besar, gamelan, dan wayang kulit berjajar rapi. Sedangkan di gedung sebelahnya, iringan gamelan mulai ditabuh.
Lakon Wayang Dupara satu per satu dimainkan.
Menariknya, wayang yang mengisahkan hikayat kerajaan Jawa itu diceritakan menggunakan Bahasa Indonesia.
"Cokro manggilingan kita representasikan sebagai perputaran pertunjukan wayang lebih relevan ke kehidupan masyarakat. Bahasa bukan sebuah hambatan pagelaran wayang, dengan menggunakan bahasa Indonesia diharapkan bisa lebih mudah dipahami bagai kalangan muda tanpa meninggalkan tradisi wayang itu sendiri," ungkap Bagong Pujiono Kajur Pedalangan.
Momentum tak biasa ini sengaja diadakan untuk memperingati Hari Wayang Dunia ke-XI di ISI Surakarta.
Rangkaian acara sedari Sabtu pagi silih berganti, pagelaran wayang, ruwatan, hingga diskusi budaya yang menghadirkan praktisi seni pedalangan, peneliti, serta sastrawan Surakarta.
Diskusi budaya yang dibalut dalam tema "Wayang Bayangan Zaman Yang Terus Bergerak" mengajak peserta menelaah lebih jauh warisan leluhur yang perlahan mulai sepi peminat.
Sastrawan Rendra Agusta mengungkapkan konteks kebahasaan pada wayang sangat kompleks.
Untuk itu parsialitas dan diferensiasi bahasa perlu digaungkan agar wayang bisa dinikmati berbagai kalangan.
"Meminjam istilah srawung, tepung, lan dunung. Pendekatan kita pada wayang juga seperti itu, perlu berkumpul, mengenal, hingga memahami karakteristik wayang," sambung Bima Slamet Dosen Sastra Jawa Universitas Gajah Mada.
Selaras dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta Tatik Harpawati berharap pagelaran wayang tidak lekang oleh zaman.
Baca Juga: Profil dan Jejak Karier Taecyeon 2PM, Tulis Surat Haru untuk Penggemar Jelang Pernikahan
"Harapannya dengan diskusi ini kita bisa mewadahi berbagai pikiran untuk perkembangan wayang agar lebih adaptif dan mengikuti perkembangan zaman," jelasnya.
Siangnya, ruwatan massal diadakan sebagai upaya mensucian dan melepaskan malapetaka yang ada dalam diri sebelum menempuh babak baru.
Setiap tahunnya untuk memperingati hari wayang, ruwatan massal diadakan.
"Adanya hari wayang pasti ada ruwatan sebagai bentuk pensucian diri, kalau orang Jawa bilang mengobati sukerto atau reget di tubuh. Pesertanya bebas," jelas Bagong Pujiono Kajur Pedalangan.
Berbeda dari biasanya, serial HWD dibuka dengan epik oleh Rektor ISI Surakarta Bondet Wrahatnala di depan kelir.
Diiringi suara gamelan, ia menyalakan blencong dan memulai fragmen budaya dengan mendalang.
Ia menunjukkan bahwa ISI Surakarta bukan sekadar institusi pendidikan tetapi juga benteng peradaban yang menjaga roh kebudayaan nusantara.
"Melalui Hari Wayang Dunia, ISI Surakarta terus berkomitmen menjadi pusat pengembangan pengetahuan pedalangan yang relevan dengan perkembangan, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai nusantara," jelas Bondet.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Republik Indonesia Restu Gunawan, mengapresiasi adanya HWD.
"Selamat Hari Wayang Dunia yang ke sebelas. Saya sangat bangga hari wayang diselenggarakan dan diapresiasi oleh berbagai kalangan di ISI Surakarta. Bagi saya wayang adalah energi untuk kita melakukan inovasi, gagasan, penelitian, dan kolaborasi bersama dalam melestarikan budaya Indonesia," pungkasnya. (alf)
Editor : Tri wahyu Cahyono