Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Raja Keraton Solo Paku Buwono XIII Mangkat, Kereta Jenazah Peninggalan Zaman PB VII Kembali Keluar dari Gudang Pusaka ‎ ‎

Antonius Christian • Minggu, 2 November 2025 | 18:19 WIB
Kereta Jenazah Peninggalan Zaman PB VII.
Kereta Jenazah Peninggalan Zaman PB VII.

RADARSOLO.COM - Dari balik tembok megah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sebuah kereta kayu jati tua kembali disiapkan untuk menjalankan tugas sakral — mengantarkan seorang raja menuju peristirahatan terakhirnya.

‎Kereta berwarna putih dengan ornamen mahkota di puncaknya itu bukan sekadar kendaraan. Ia adalah saksi bisu sejarah panjang para raja Mataram.

Disebut kereta jenazah, pusaka ini telah berusia lebih dari seabad dan pertama kali digunakan sejak masa pemerintahan Pakubuwono (PB) VII.

Kini, roda tuanya kembali berputar untuk membawa jenazah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun (SISKS) Pakubuwono XIII keluar dari ndalem keraton menuju kendaraan selanjutnya sebelum diberangkatkan ke Makam Raja-Raja Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

‎“Kereta jenazah ini memang khusus digunakan untuk mengangkat jenazah dari ndalem keraton ke luar. Seperti saat PB XII dulu, sama. Kalau dulu PB X sempat ke Stasiun Balapan karena naik kereta api. Sedangkan PB XII dari sini ke Puryaningratan, baru ganti ambulans,” tutur KGPH Puger, adik PB XIII, saat ditemui di Keraton.

Raja Keraton Solo PB XIII wafat di usia 77 tahun, Siapa Penerus Takhta? Ini Daftar Anak-anak Sinuhun Pakubuwono XIII
Raja Keraton Solo PB XIII wafat di usia 77 tahun, Siapa Penerus Takhta? Ini Daftar Anak-anak Sinuhun Pakubuwono XIII

Menurutnya, prosesi kali ini juga akan berlangsung dengan tata cara serupa.

“Nanti koordinasinya hampir sama, kalau ada perubahan akan kami sesuaikan,” imbuhnya.

Kereta kayu jati tersebut akan ditarik oleh enam hingga delapan ekor kuda pilihan.

Derap langkah kuda akan memecah kesunyian keraton, diiringi pasukan prajurit, sentono dalem, para pengawal, dan kerabat.

Sepanjang jalan, masyarakat biasanya berdiri di tepi jalur, menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada raja mereka.

Kereta ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol perjalanan suci seorang sinuhun dari dunia fana menuju keabadian.

Warna putihnya melambangkan kesucian, sementara ukiran mahkota di puncaknya menandai keagungan seorang raja yang telah menuntaskan pengabdian.

Menurut catatan keraton, kereta jenazah ini sudah berusia lebih dari 100 tahun.

Terbuat dari kayu jati tua, pusaka tersebut sempat direnovasi pada masa PB X dan sejak itu dirawat dengan penuh kehati-hatian di gedung koleksi kereta.

Bagi masyarakat maupun keluarga keraton, setiap kali kereta ini kembali bergerak, itu pertanda sejarah sedang menulis babak baru dalam perjalanan panjang Kasunanan Surakarta.

Sinuhun PB XIII wafat pada Sabtu pagi sekitar pukul 07.30 WIB.

Menurut KGPH Puger, jenazah akan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Imogiri, mengikuti adat turun-temurun.

“Biasanya pemakaman dilakukan dua sampai tiga hari setelah wafat, menunggu penjabat pemerintah yang akan melayat. Paling lambat tiga hari,” ujarnya.

Rangkaian prosesi adat akan dimulai dari Masjid Keraton, tempat jenazah disiram dan disalatkan. Setelah itu, jenazah dibawa ke Paragiyo, di belakang Sasana Wilopo, sebelum diberangkatkan melalui jalur utama keraton.

“Adatnya seperti biasa. Dari masjid, disirami, lalu dibawa ke Paragiyo. Destinasinya saja yang berbeda, karena setiap raja punya masjid dan pendopo sendiri. Tapi brobosan tetap ada, adatnya begitu,” jelas Puger. (atn/nik)

Editor : Niko auglandy
#PB XIII #Paku Buwono