RADARSOLO.COM – Putri tertua Pakubuwono XIII, GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, mengungkap alasan pemakaman sang ayah akan dilaksanakan pada Rabu (5/11). Keputusan itu diambil karena mempertimbangkan kepercayaan adat Jawa yang masih dipegang kuat oleh pihak keraton.
Sementara itu, pemilihan Loji Gandrung sebagai tempat pemberangkatan jenazah Pakubuwono XIIIsebelum dimakamkan di Imogiri, Bantul, tidak memiliki alasan khusus, melainkan bentuk tawaran bantuan dari Pemerintah Kota Solo.
Ditemui Minggu (2/11) malam, perempuan yang akrab disapa Gusti Timoer itu menjelaskan, Hari Selasa dianggap bukan waktu baik untuk melakukan pemakaman. Karena itulah, prosesi pemakaman SISKS PB XIII Hangabehi ditetapkan pada Rabu pagi.
“Hari Selasa kalau orang Jawa hari tidak baik, kami putuskan berangkat Rabu pagi. Tidak ada acara khusus, hanya tahlilan terus selama tiga hari. Kami juga siapkan prosesinya, karena masih banyak. Mungkin perlu gladi untuk prosesinya. Kemudian kereta (jenazah) juga masih disiapkan,” terangnya.
Mengenai rute iring-iringan pengantar jenazah dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ke Loji Gandrung, Gusti Timoer menegaskan tidak ada alasan khusus selain karena lokasi Dalem Wuryaningratan belum siap.
“Tidak (ada alasan khusus). Karena Minggu pagi Pak Respati (Wali Kota Solo) datang ke rumah sakit menawarkan apa yang bisa dibantu. Karena Wuryaningratan belum menjawab, saya langsung minta Pak Wali untuk ke Loji Gandrung,” jelasnya.
Keraton Kasunanan Surakarta juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada PB XIII Hangabehi.
Tidak ada syarat khusus, hanya memakai samir dan pakaian adat seperti yang biasa dikenakan di lingkungan keraton.
“Belum ada pembicaraan (hanya tamu khusus atau umum), dari pagi kami belum ada koordinasi untuk itu. Tapi abdi dalem sudah datang," ucapnya.
Dia mengakui kalau masyarakat umum, bisa melihat prosesi dari Magangan, Alun-alun Selatan, Gading, hingga ke Loji Gandrung.
"Di sana (jenazah) akan dipindah dari kereta jenazah ke ambulans lalu ke Jogja,” bebernya. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy