RADARSOLO.COM - Kepala Satpol PP Kota Solo Didik Anggono mengatakan, pihaknya telah menindaklanjuti hasil temuan dengan menutup sementara usaha warung bakso yang diduga menggunakan bahan non halal tersebut.
“Itu hasil pengecekan tim pangan Kota Solo. Pemiliknya, Pak Sugino, waktu ditanya dua kali menyatakan bahwa produk baksonya non halal. Karena pengakuan itu disampaikan langsung di hadapan tim, maka kami tindaklanjuti dengan penutupan sementara,” terang Didik.
Namun, Didik menyebut ada faktor lain yang juga menjadi pertimbangan.
Pemilik usaha diketahui baru keluar dari rumah sakit dan dalam kondisi belum sepenuhnya pulih.
“Saat kami konfirmasi ulang hari ini, dia bilang masih linglung karena baru pulang dari rumah sakit. Jadi kami ambil langkah hati-hati. Usaha kami tutup sementara sampai hasil uji laboratorium keluar,” jelasnya.
Dari hasil sidak petugas menempelkan stiker bertuliskan “non halal” di dinding warung bakso di Joyosuran yang sudah beroperasi puluhan tahun tersebut.
Foto dan video penempelan stiker pun viral di media sosial, menimbulkan keresahan warga dan pelanggan tetapnya.
Namun, pemilik warung lainnya, Thirthania Laura Damayanthie (anakl dari Sugino), dengan tegas membantah tuduhan bahwa bakso jualannya mengandung bahan non halal.
Dia menyebut peristiwa itu hanyalah kesalahpahaman yang terjadi saat ayahnyadiwawancarai oleh petugas saat sidak berlangsung.
“Sebenarnya bakso kita itu halal. Tapi karena bapak saya waktu diwawancarai petugas bingung antara halal dan non halal, beliau menjawabnya salah. Jadi bukan karena memang bahan kami non halal. Semua bahan bakunya halal, tidak ada yang pakai babi atau sejenisnya,” terang Laura, terangnya (3/11).
Laura menjelaskan, keluarganya merupakan muslim dan sejak awal menjalankan usaha dengan prinsip halal.
Daging yang digunakan untuk bakso berasal dari pemasok sapi lokal dengan surat jalan yang lengkap, sementara bahan pelengkap seperti bumbu dan saus juga dibeli dari toko yang sudah bersertifikasi halMaa
“Kami ini keluarga muslim. Dari dulu bapak sudah menekankan, jangan main-main soal bahan makanan. Semua beli di supplier yang jelas dan halal. Jadi begitu muncul kabar non halal, jujur kita semua kaget,” ujarnya.
Dia mengaku masih menunggu hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh pihak dinas untuk memastikan kejelasan kandungan bahan baku baksonya.
Hasil tersebut dijadwalkan keluar pada Jumat mendatang. Laura berencana segera melakukan klarifikasi publik melalui akun resmi media sosial milik warungnya setelah hasil itu diterima.
“Kalau hasil lab sudah keluar, kami akan sampaikan terbuka lewat Instagram. Biar masyarakat tahu kebenarannya,” lanjutnya.
Meski demikian, Laura menyebut adanya kejanggalan dalam proses pengujian tersebut.
Dia menuturkan, sejauh ini belum ada petugas yang datang langsung mengambil sampel produk dari warungMana
“Kami heran juga, katanya sampelnya sudah ada di lab. Tapi setahu kami belum ada yang datang ambil dari sini. Jadi kami tidak tahu sampel itu dari mana,” ujarnya dengan nada bingung.
Pasca kabar dugaan non halal merebak, situasi di sekitar warung menjadi tidak kondusif.
Sejumlah warga dan pelanggan datang silih berganti, sebagian ingin memastikan kebenaran kabar, sebagian lain mempertanyakan kejelasan status kehalalan produk.
Kondisi itu membuat Laura dan para pegawainya merasa tidak nyaman.
“Sebenarnya tadi pagi petugas Satpol PP datang dan menyarankan agar warung tutup sementara mulai malam hari, setelah stok habis. Tapi karena siang suasananya sudah ramai dan agak panas, kami memutuskan untuk tutup lebih awal demi keamanan,” ujar Laura.
Dia menegaskan, penutupan itu bukan bentuk pengakuan bersalah, melainkan langkah sementara untuk menenangkan situasi dan menghindari kesalahpahaman lebih lanjut.
“Kami tutup bukan karena bersalah, tapi karena situasi sudah tidak kondusif. Takut ada hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Selama hampir tiga dekade, warung tersebut menjadi salah satu tujuan warga sekitar dan pelanggan lama dari berbagai daerah.
“Berdirinya sejak sekitar 1997-an. Jadi memang sudah lama banget, bapak saya yang buka sendiri,” tutur Laura.
Menariknya, sang ayah dari Laura ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan pemilik warung legendaris bakso dengan nama yang sama di Kartopuran, yang dikenal luas masyarakat Solo.
“Bapak itu adik dari pemilik bakso di Kartopuran. Jadi bisa dibilang, dulu beliau buka cabang sendiri di Gading,” ungkapnya.
Kini, warung yang dikelola Laura mempekerjakan sembilan pegawai dan melayani ratusan pelanggan setiap harinya.
“Kita tunggu hasil lab saja. Harapan kami masyarakat tetap tenang dan tidak langsung percaya pada kabar yang belum tentu benar. Kami ingin menjaga kepercayaan pelanggan yang sudah puluhan tahun mendukung kami,” pungkasnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy