RADARSOLO.COM – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar tahlilan tujuh hari wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII, Jumat (7/11) malam.
Ratusan orang dari keluarga, kerabat, abdi dalem, hingga masyarakat umum tampak memadati kompleks Keraton untuk mengikuti doa bersama.
Dari pantauan di lokasi, prosesi tahlilan dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Sejumlah umbo rampe berupa berkat dan perlengkapan upacara adat ditata di Sasono Parasdya.
Suasana tampak khidmat ketika keluarga besar dan para abdi dalem duduk bersila mengenakan busana adat Jawa lengkap.
Tampak hadir sejumlah putra-putri PB XIII, di antaranya KGPAA Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram, Gusti Mangkubumi, Gusti Timoer Rumbai, serta beberapa anggota keluarga lainnya.
Sementara masyarakat umum yang ikut serta dalam tahlilan ditempatkan di Sasono Wilopo, area yang masih satu kompleks dengan Sasono Parasdya. Mereka datang dengan berpakaian sopan—batik, gamis, hingga kemeja.
Salah satu warga Baluwarti, Sri Mulyani, mengaku datang bersama warga satu lingkungan untuk ikut mendoakan mendiang PB XIII.
“Saya ingin ikut mendoakan. Biasanya yang dibacakan ya tahlil, sholawat, dan surat Yasin. Saya bukan orang dalam, tapi warga sini,” ujarnya.
Baca Juga: Fit dan Tidak Cedera, Rafinha Tak Dibawa Lawan Persis Solo, Pelatih PSIM: Saya Punya Alasan
Dia berharap suasana Keraton dan sekitarnya selalu damai dan membawa ketentraman bagi masyarakat.
“Semoga tentrem, ayam tentrem, adem ayem. Kalau sini damai kan seneng, warga ikut ayem,” ucapnya.
Mulyani menambahkan, meski tidak terlibat langsung dalam kegiatan Keraton, warga Baluwarti merasa memiliki kedekatan emosional dengan lingkungan tersebut.
“Kalau ada acara besar, kami kadang diminta bantu-bantu, seperti bikin kembang pas malam Suro,” imbuhnya.
Sebelumnya, putra tertua PB XIII, KGPH Mangkubumi atau Hangabehi, menyampaikan bahwa tahlilan tujuh hari ini digelar sebagai bentuk penghormatan keluarga dan abdi dalem kepada mendiang PB XIII.
“Hari ini tepat tujuh harinya beliau. Malam ini ada tahlilan di Keraton, dan kita juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum yang ingin ikut berdoa dengan berpakaian rapi,” jelas Hangabehi.
Ia menambahkan, keluarga besar Keraton saat ini masih dalam masa berkabung dan tengah menyiapkan sejumlah prosesi lanjutan, termasuk peringatan 40 hari wafatnya PB XIII.
“Proses-proses berikutnya seperti 40 harian dan lainnya masih akan dilaksanakan. Kita sekeluarga masih dalam suasana duka,” terangnya.
Baca Juga: Teks Doa Upacara Hari Pahlawan 2025 Resmi dari Kemendikdasmen yang Penuh Makna dan Nasionalisme
Meski dalam suasana berkabung, pihak Keraton memastikan Museum Keraton tetap beroperasi seperti biasa.
“Kalau museumnya tidak sampai tutup 40 hari. Justru saat ini sedang dilakukan konservasi untuk merawat artefak-artefak peninggalan yang ada di dalam,” pungkas Hangabehi.(atn/nik)
Editor : Niko auglandy