RADARSOLO.COM - "Allaahu akbar..... Allaahu akbar..... Allaahu akbar..... Laa-ilaaha-illallahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil-hamd,".
Malam itu, indahnya takbiran menggema di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Di tengah remang-remang, suara itu berpadu dengan isak tangis.
Itulah puncak emosi dari drama berjudul "Ayahku Pulang" oleh Teater Mentari MA Maslakul Huda Lamongan, Kamis (6/11).
Salah satu bagian dari Festival Drama Realis Remaja yang dilangsungkan oleh Omah Kreatif Arturah di pusat budaya Provinsi Jawa Tengah.
Isu yang diangkat cukup familiar dengan kehidupan masyarakat.
Menyajikan sebuah luka di balik dinding rumah tangga. Tentang seorang ayah yang dipenuhi rasa penyesalan setelah tergoda oleh gemerlap dunia.
Sutradara Teater Mentari Ahmad Sukirno menceritakan, pada awalnya sang ayah merupakan seorang yang bergelimang harta. Di tengah kenikmatan itu, perempuan menjadi godaan terbesarnya.
"Sang ayah dimana-mana punya perempuan hingga lupa dengan keluarganya yang ada di rumah," ucap Sukirno kepada Jawa Pos Radar Solo usai pementasan.
Sampai akhirnya, sang ayah diuji oleh Allah yang Maha Kuasa.Ujian tersebut membuatnya tersadar. Pintu hatinya yang keras itu terketuk untuk pulang dan menemui keluarga di rumahnya. Tapi, tak semua pulang disambut pelukan.
"Sang ayah pulang saat hari raya. Tapi rupa-rupanya, anak pertama, yang menjadi tulang punggung dari keluarga tidak menerima kedatangan sang ayah. Selama ini, mau tidak mau dia harus mengakui bahwa dia tidak punya ayah," lanjutnya.
Ketegangan pun terjadi. Sang ibu dan adik-adiknya memohon ampun agar ayahnya diterima kembali. Tapi, sang ayah sadar diri.
Nasi sudah menjadi bubur. Dengan sadar, dia keluar dari rumah yang hangat itu.
"Sang ayah itu sudah menderita lama sekali. Akhirnya si ayah langsung memilih untuk segera menyelesaikan hidupnya. Yaitu bunuh diri, menceburkan dirinya ke muara atau kali," lanjutnya.
Pesan sederhana yang ingin disampaikan dalam cerita ini adalah bersyukur, apapun kondisinya. Jadi saat situasi pas-pasan, kaya atau bahkan di garis kemiskinan, tetap bersyukur.
"Karena suatu hal yang terkait dengan rasa syukur itu pasti ada hal-hal yang diinginkan oleh Allah," ucapnya.
Selama dua bulan, lima aktor dan kru lainnya memproses cerita ini dengan kesungguhan.
Setelah menerima dan menetapkan naskah dari panitia, mereka tancap gas untuk mempersembahkan karya magis ini ke penonton.
"Mengapa kami memilih naskah ini? Dari beberapa naskah, yang kami kaji itu isu di wilayah kami di Jawa Timur, yakni masalah keluarga. Jadi tak sedikit angka perceraian. Jadi kami rasa, kami perlu mengangkat cerita ini," bebernya.
Proses kreatif penghafalan naskah berlangsung selama kurang lebih dua pekan. Setelah sudah hafal, baru dipraktikkan secara total.
"Nah, satu minggunya itu bisa satu hingga dua kali. Menyesuaikan jam belajarnya anak-anak di sekolah. Sehingga terhitung proses mulai awal sampai dengan di akhir itu kurang lebih dua bulan," sebutnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy