Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Rutan Solo Bakal Disulap Jadi Museum dan Pusat Kreatif, Siap Jadi Ikon Wisata Baru Kota Bengawan

Antonius Christian • Kamis, 13 November 2025 | 00:46 WIB
CEK: Kunjungan kerja Komisi XIII DPR RI ke Rutan Solo, Rabu (12/11).
CEK: Kunjungan kerja Komisi XIII DPR RI ke Rutan Solo, Rabu (12/11).

RADARSOLO.COM – Wajah Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Surakarta bakal berubah total setelah relokasi rampung. Bangunan bersejarah di kawasan Gladag itu direncanakan akan disulap menjadi museum pemasyarakatan dan pusat ekonomi kreatif, yang diharapkan menjadi ikon wisata edukasi baru Kota Solo.

Wacana ambisius ini mencuat dalam kunjungan kerja Komisi XIII DPR RI ke Rutan Solo, Rabu (12/11). Kunjungan dipimpin Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Rinto Subekti, yang memberikan apresiasi tinggi atas inovasi pembinaan warga binaan di Rutan Solo.

“Kami melihat langsung bagaimana pihak Rutan membina warga binaan dengan tetap mempertahankan norma dan budaya lokal. Ini luar biasa, karena tidak hanya melatih keterampilan, tapi juga membentuk karakter agar mereka kembali ke masyarakat sebagai insan kreatif dan berbudaya,” ujarnya.

Namun di balik apresiasi tersebut, ada isu besar yang menjadi sorotan: rencana relokasi Rutan Solo ke Kabupaten Karanganyar. Nantinya, bangunan peninggalan era kolonial Belanda itu akan dialihfungsikan menjadi museum sejarah pemasyarakatan serta kawasan foodcourt ekonomi kreatif yang terbuka untuk umum.

Rinto menyebut, gagasan itu memiliki nilai sosial dan pariwisata tinggi, namun perlu perencanaan matang terkait fungsi penitipan tahanan dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta.

“Kalau seluruh bangunan dialihfungsikan menjadi museum, tentu ada kendala. Tahanan titipan dari Kejari harus dikirim ke Karanganyar yang jaraknya sekitar 45 menit dari Solo. Ini bisa menghambat proses persidangan dan administrasi hukum,” jelasnya.

Komisi XIII DPR RI, lanjut Rinto, akan mendorong Kanwil Kemenkumham Jateng dan Pemkot Surakarta untuk meninjau ulang desain pengalihfungsian tersebut.

“Kami sarankan agar sebagian area tetap difungsikan sebagai rumah titipan tahanan. Jadi fungsi pemasyarakatan tetap berjalan, sementara aspek sosial-budayanya juga bisa hidup,” tegasnya.

Rinto menambahkan, Rutan baru di Karanganyar ditargetkan rampung Desember 2025, dan proses pemindahan warga binaan akan dimulai awal tahun depan.

Sementara itu, Wali Kota Solo Respati Ahmad Ardianto menyatakan dukungannya terhadap rencana relokasi tersebut. Pemkot Solo, kata dia, siap memfasilitasi kebutuhan yang muncul, termasuk menyediakan lahan baru untuk tahanan titipan di dalam kota.

 “Kami mendukung penuh wacana pemindahan ini. Hanya saja, kami juga diminta tetap menyediakan ruang untuk tahanan titipan agar proses hukum dan sidang tidak terganggu. Kami siap memfasilitasi itu,” ujar Respati.

Respati menegaskan, bangunan tua Rutan Solo tidak akan diubah secara fisik karena telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Nilai historis inilah yang akan menjadi daya tarik utama museum nantinya.

“Kami tidak akan mengubah bentuknya. Justru keasliannya yang menjadi kekuatan utama. Konsepnya seperti Museum Tai Kwun di Hongkong. Dulunya kompleks kepolisian dan penjara kolonial, kini menjadi destinasi wisata budaya populer,” paparnya.

Dia menggambarkan, kompleks Rutan Solo nantinya akan diisi pameran foto, arsip sejarah, serta galeri budaya. Di beberapa area juga akan dibuka ruang bagi pelaku ekonomi kreatif dan kuliner khas Solo, menjadikannya kawasan wisata yang hidup dan edukatif.

“Akan ada museum edukasi, ruang galeri, hingga foodcourt. Jadi pengunjung bisa belajar sejarah sambil menikmati suasana bangunan kolonial yang otentik. Kami ingin menjadikannya ruang publik yang memberi manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Respati optimistis, jika proyek tersebut terealisasi, Rutan Solo akan menjelma menjadi ikon baru Kota Bengawan — simbol transformasi ruang bersejarah menjadi ruang sosial, edukatif, dan kreatif.

“Kami ingin mengubah persepsi masyarakat dari kesan ‘penjara’ menjadi ruang yang hidup, terbuka, dan membanggakan. Ini akan menjadi kebanggaan baru warga Solo,” pungkasnya. (atn/nik)

Editor : Niko auglandy
#Rutan Kelas I Surakarta