RADARSOLO.COM – Forum Komunikasi Keluarga Becak (FKKB) Kota Solo menggelar pertemuan rutin bersama Wali Kota Surakarta dan Dinas Perhubungan (Dishub) di Pendapa Loji Gandrung, Solo.
Agenda ini menjadi wadah dialog antara pemerintah dan para pengayuh becak untuk mendengarkan kebutuhan, persoalan, sekaligus merumuskan kebijakan agar transportasi tradisional tersebut tetap lestari.
Wali Kota Solo Respati Ardi menegaskan, forum rutin tersebut merupakan bentuk komitmen Pemkot dalam menjaga keberlangsungan becak sebagai transportasi budaya khas Kota Bengawan.
“Ini forum rutin yang diadakan Dishub untuk para pengayuh becak. Harapannya mereka bisa didengarkan oleh kami pihak Pemkot. Karena ini adalah alat transportasi tradisional yang harus kita budayakan,” ujarnya, Jumat (14/11).
Pemkot juga menyampaikan rencana penerapan satuan harga tarif becak wisata yang akan ditetapkan secara resmi.
Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas harga, memberikan kepastian bagi wisatawan, sekaligus menjamin pendapatan para pengayuh becak.
“Pendataan ini menjadi salah satu upaya kami terkait jaminan ketenagakerjaan, jaminan hari tua, dan lainnya. Para pengemudi becak juga akan diberikan identitas seperti ini (KTA) agar jelas data dirinya. Kami tidak membeda-bedakan profesi apa pun di Kota Solo,” terang Respati.
Saat ini terdapat sekitar 500 pengayuh becak yang terdaftar di Kota Solo. Dari jumlah tersebut, 160 di antaranya berusia di atas 55 tahun.
Kelompok lanjut usia ini menjadi prioritas untuk menerima bantuan becak listrik sebagai dukungan mobilitas kerja.
“Kalau yang muda-muda masih kuat mengayuh,” tambahnya.
Dishub Kota Solo menyebut pendataan mencakup seluruh pangkalan becak yang tersebar di berbagai titik kota, mulai kawasan Keraton, Beteng Vastenburg, Pasar Gede, Sriwedari, hingga Jongke.
“Kita pastikan semuanya terdata, lalu kita berikan KTA dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) becak,” ujar Kepala Dishub Solo Taufiq Muhammad.
Ia menambahkan, tarif resmi akan dipasang langsung pada unit becak dan berlaku untuk kawasan wisata.
“Kalau melebihi nanti ada tarif per kilometer. Biar semua ada kepastian tarif dan menghindari keluhan soal harga,” terangnya.
Sementara itu, salah satu pengayuh becak, Muhsin (67), ikut memberikan masukan terkait bantuan becak listrik yang pernah diberikan sebelumnya.
“Semoga bantuan becaknya tidak seperti yang kemarin. Bantunya lemah. Ngecas harus seharian tapi dipakainya cuma beberapa jam saja,” keluhnya.
Ia menambahkan, daya baterai sangat dipengaruhi kondisi medan serta beban penumpang.
“Kalau jalannya naik atau bawa muatan berat, baterai cepat habis. Jadi kadang kami was-was,” ucapnya. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy