RADARSOLO.COM - Fenomena "Raja Kembar" yang kembali muncul dalam suksesi Paku Buwono (PB) XIV di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dinilai sebagai warisan konflik yang belum terselesaikan dari era sebelumnya.
Pengamat Sosial dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Rezza Akbar memperingatkan bahwa pengulangan konflik ini berpotensi merosotkan marwah keraton di mata publik dan pemerintah.
Rezza Akbar melihat konflik antara KGPH Purbaya dan KGPH Mangkubumi (Hangabehi) merupakan turunan (derivasi) dari konflik suksesi PB XIII antara Hangabehi dan Tedjowulan pada 2004 silam.
Menurut Rezza, kemunculan kembali konflik di momen wafatnya SISKS PB XIII ini menjadi pusaran utama (core) yang menegaskan bahwa internal Keraton Surakarta adalah entitas yang memiliki potensi konflik yang tinggi dalam hal kekuasaan, otoritas, dan suksesi.
Rezza Akbar khawatir preseden konflik ini akan menjadi tradisi yang terus berlanjut di setiap pergantian kekuasaan jika tidak ada mekanisme penyelesaian yang tegas.
"Publik menangkap fenomena konflik ini menjadi wajah baru, identitas baru, kultur baru yang disematkan masyarakat pada Kasunanan," tegasnya.
Sikap masyarakat yang sudah terbiasa melihat konflik ini lantas beralih dari kaget menjadi acuh, skeptis, dan apatis. Secara sosial, implikasi terburuk dari konflik yang diriwayatkan sebagai "Raja Kembar" ini adalah merosotnya marwah Keraton Surakarta Hadiningrat karena dianggap tidak mempraktikkan keluhuran budaya Jawa.
Padahal, fungsi utama Keraton Mataram Islam—baik di Solo maupun Jogjakarta—adalah menjadi pelestari nilai dan kebudayaan Jawa.
Konsekuensi dari konflik yang dipelihara ini berdampak luas. Menurunkan legitimasi di mana keraton kehilangan nilai tawar dan legitimasi di mata publik.
Ketergantungan eksternal. Konflik yang tak kunjung usai akan membuka pintu bagi pemerintah kota atau pemerintah pusat untuk masuk menjadi fasilitator.
Ancaman terburuk adalah intervensi pihak luar akan menurunkan nilai keraton di mata pemerintah karena dianggap sebagai "lokasi konflik tanpa ada kata akhir," yang akhirnya merusak posisi agung Keraton baik secara sosial maupun politik.
Rezza berharap komitmen kuat dari internal keraton segera muncul untuk mengakhiri konflik ini, agar marwah keraton tidak semakin turun di masa depan. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno