RADARSOLO.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah memastikan kesiapan untuk mengembalikan sistem enam hari sekolah bagi jenjang SMA/SMK pada semester mendatang. Kebijakan ini diambil sebagai solusi untuk mengatasi kelelahan fisik dan mental siswa akibat padatnya jam belajar dalam sistem lima hari (full day school) yang diterapkan sebelumnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah Sadimin mengatakan, disdik telah menyiapkan langkah antisipatif strategis demi optimalisasi kebijakan baru ini. Salah satu langkah utamanya adalah memindahtugaskan guru atau tenaga pendidik (tendik) agar mengajar lebih dekat dengan domisili mereka.
“Upaya efisiensi jarak ini kami siapkan untuk menghadapi semester depan dengan kembalinya enam hari sekolah. Ini sebagai ikhtiar dan sudah terbukti efektivitasnya dalam menjaga performa tenaga pendidik,” ungkap Sadimin saat ditemui di SMA Pradita Dirgantara, Selasa (18/11).
Wacana pemberlakuan enam hari sekolah ini difokuskan pada jenjang SMA/SMK/sederajat, namun tidak menutup kemungkinan akan meluas ke jenjang SD dan SMP.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jateng Agung Wijayanto membenarkan bahwa pertimbangan utama kembali ke sistem enam hari adalah kondisi siswa.
“Kalau 10 jam sehari itu kan kasihan juga bagi anak-anak. Kebijakan ini juga melihat adanya kelelahan fisik dan mental pada siswa,” jelas Agung.
Menurut Agung, kebijakan ini akan memberikan kesempatan lebih bagi siswa untuk memanfaatkan waktu di luar sekolah untuk kegiatan bermanfaat lainnya, seperti TPQ, ekstrakurikuler, serta pengembangan bakat non-akademik.
Meskipun demikian, Agung mengakui bahwa upaya pemindahan tugas guru untuk pemerataan belum bisa optimal sepenuhnya karena ketidakseimbangan antara ketersediaan tempat dan jumlah personal tenaga pendidik.
Cabdin saat ini masih terus berkoordinasi dengan sekolah-sekolah untuk memastikan kesiapan teknis dan sumber daya sebelum kebijakan resmi diterapkan.
Kepala SMKN 3 Solo Hendrina Widiastuty menyatakan siap mengikuti kebijakan pemerintah dan melakukan sosialisasi kepada warga sekolah baik guru, karyawan, dan siswa.
"Kalau enam hari sekolah pulangnya kan lebih siang, semua ada postif negatifnya. Hanya tinggal pembiasaan saja," jelasnya.
Lebih lanjut Hendrina menekankan jika kebijakan ini memiliki dampak positif dan negarif. Positifnya siswa dan guru bisa pulang lebih awal. Namun pihak sekolah juga memerlukan penyesuaian untuk mensosialisasikan hal ini dengan orang tua dan beberapa tatanan lainnya seperti pembagian jam kerja guru.
"Harapannya semuanya warga sekolah bisa menerima dengan bijak meski dulu sudah pernah. Untuk menuju enam hari sekolah ini memerlukan penyesuaian dan pendampingan . (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno