RADARSOLO.COM – Paku Buwono XIV Hamangkunegoro (Gusti Purbaya) mengumumkan struktur Bebadan Keraton Surakarta Hadiningrat yang baru. Struktur kepengurusan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola keraton di era modern, dengan memadukan unsur kerabat inti, tokoh adat, serta profesional dan akademisi lintas disiplin ilmu.
Juru Bicara Keraton Kasunanan Surakarta KPA Singonagoro menerangkan, pengumuman yang dilakukan pada Rabu (19/11) ini bertujuan memulihkan marwah dan menegaskan kembali posisi keraton sebagai pusat peradaban Jawa yang berorientasi masa depan.
"Struktur baru ini merupakan gabungan unsur tradisional, akademik, profesional, dan kepakaran lintas disiplin ilmu," kata Singonagoro.
Dalam bebadan baru ini, posisi sesepuh dan tokoh adat ditempatkan pada jajaran paranpara nata sebagai penasihat utama raja. Sementara itu, modernisasi tata kelola tercermin dari kehadiran staf khusus raja yang berasal dari kalangan profesor, pakar, dan ahli multidisiplin.
Secara khusus, PB XIV Purbaya menunjuk dua tokoh hukum ternama, yaitu mantan Hakim PTUN Jakarta KP Teguh Satya Bhakti, dan pengacara Sionit T. Martin Gea. Keduanya dipercaya untuk memprakarsai lembaga hukum raja yang baru dibentuk.
"Kehadiran dua tokoh hukum ini diyakini menjadi penopang kuat bagi legitimasi, ketertiban regulasi adat, dan perlindungan hukum keraton di era PB XIV,” tambah Singonagoro.
Konsolidasi internal keraton juga terlihat dari penempatan kerabat inti dalam posisi kunci bebadan. GKR Panembahan Timoer Rumbay Dewayani (kakak tertua raja) menjabat sebagai Pengageng Sasana Wilapa. KGPHAP Dipokusumo dipercaya memegang jabatan lama sebagai Pengageng Parentah Karaton. Dan GKR Devi Lelyana Dewi (kakak perempuan raja) mengemban tugas sebagai Pengageng Kebudayaan dan Pariwisata.
Sementara itu, KGPHAP Benowo masih menjabat sebagai Pengageng Kasentanan, GKR Alit sebagai Pengageng Keputran, dan KRAy Febri Dipokusumo sebagai Pengageng Kahartaan.
Penyusunan struktur baru ini didahului dengan peristiwa pemberian gelar kehormatan kepada sejumlah pihak yang dianggap berjasa dalam penobatan PB XIV. Kakak tertua raja, GKR Panembahan Timoer Rumbay Dewayani, menerima gelar tertinggi. Selain itu, kakak perempuan raja lainnya, GRAy Devi Lelyana Dewi dan GRAy Dewi Ratih Widyasari, dinaikkan pangkatnya menjadi GKR.
Timoer menyebut pemberian gelar ini murni "sabda raja" sebagai rasa terima kasih atas perjuangan mereka mendudukkan Purboyo sebagai raja.
PB XIV berharap struktur baru yang memadukan adat, profesionalitas, dan modernitas ini dapat memberikan wajah baru dan memperkuat peran Karaton Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa yang berwibawa dan relevan. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno