RADARSOLO.COM- Program Kampung Iklim (Proklim) di Kelurahan Panularan, Laweyan, Surakarta kini semakin meluas.
Sebelumnya ada di RW 01, saat ini program ini berhasil direplikasi pada RW 03 kelurahan setempat.
Penerapan Proklim ini dilakukan melalui lima pilar Proklim, yaitu jejaring atau kolaborasi multipihak, penguatan kelembagaan regenarasi lingkungan, edukasi dan pemberdayaan masyarakat, inovasi dan transformasi digital hijau, dan monitoring evaluasi.
Kasi Pembangunan Kelurahan Panularan Elok Ayu Faizati mengungkapkan, penerapan Proklim ini mereplikasi sistem yg sudah diterapkan di Kampung Iklim Pandabori RW 1 sebelumnya.
Kelima pilar ini berhasil diterapkan melalui pembentukan kelompok penggiat lingkungan di setiap RT, penentuan serta pembuatan kebun bersama untuk masing-masing kelompok, dan monitoring intensive baik di lapangan maupun secara online melalui diskusi WhatsApp grup di masing-masing kelompok.
"Kami bersama warga di sini berhasil mereplikasi sistem yang ada di Pandabori RW 01 sebelumnya," ujar Ayu, Jumat (21/11/2025).
Ada 6 inovasi unggulan di Kampung Iklim Pandawa, yaitu:
- Urban farming lahan sempit
- MOMOS (Modal Organik Masyarakat Olah Sampah)
- Titik-titik keranjang sedekah sampah
- Kandang ayam kastari (beternak ramah lingkungan)
- Eco Scan yaitu QR Code penjelasan virtual yang dipasang di 10 Aspek Kampung Iklim
- Berbagai produk olahan kelompok ada POC, Pestisida Nabati, Eco Enzym, Kripik Bayam Brazil, Nata de Aloe, Sirup Blimbing Wuluh, Sirup Rosela masih banyak lagi.
Perwakilan KWT (Kelompok Wanita Tani) Sedah Merekah Dariningsih menambahkan, sebelum adanya Proklim, warga di rusun hanya memanfaatkan lahan seadanya dengan menanam di pot plastik.
"Sekarang kita kelola lahan yang ada dengan menata lahan yang ada untuk membuat kebun bersama yang lebih rapi. Kebun ini kami rawat dan ada pembagian piket menyiram tanaman setiap harinya," bebernya.
"Hasil kebun dapat kita panen dan dijual di warga rusun sini, uangnya bisa kita buat untuk keberlanjutan kebun dengan membeli media, bibit tanaman ataupun pot," imbuh Dariningsih.
Lebih lanjut ia menekankan pengelolaan kebun bersama ini juga menerapkan konsep ramah lingkungan.
Pestisida yang digunakan berasal dari fermentasi kulit bawang dan air sisa mencuci beras. Setiap warga mengumpulkan sampah dapur untuk dikelola menjadi kompos, pestisida dan pupuk organik.
Saat ini ada delapan Kelompok Penggiat Lingkungan di Kampung Iklim Pandawa, yakni:
- Poktan Guyub Rukun - Asmil RT 01 RW III
- KWT Adyarakaya - RT 02 RW III
- Poktan Triseja - RT 03 RW III
- Kelompok Pemuda Tunas Hijau - RT 04 RW III
- KWT Makmur Sejahtera - RT 05 RW III
- Poktan Mbak Sri - RT 06 RW III,
- KWT Sedah Merekah - RT 07 RW III
- MPOK Warcilih - RT 08 RW III
Dampak dari adanya Program Kampung Iklim ini menarik perhatian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Program Community Innovation Hub (Srawung Sains).
Dengan skema Tera Saintek, UMS mendanai lima prototipe ko-kreasi dengan melibatkan warga Rusun secara aktif dalam pembuatan: dapur dan ruang diskusi komunal, pojok rokok, budidaya tanaman hidroponik.
Berikutnya kebun Toga/herbal, instalasi pemanenan air hujan, serta 9 unit panel surya (kapasitas total 4900 WP) bagi warga rusun RT 07 RW 3.
Panel surya ini membawa dampak besar bagi warga rusun.
"Adanya panel surya ini sangat membantu kami mengurangi biaya listrik. Selama dua bulan ini, listrik dari panel surya bisa mengkaver lampu penerangan dan sanyo air sebagian," ujar Dariningsih. (alf)
Editor : Tri wahyu Cahyono