RADARSOLO.COM - Genre drama cukup bervariasi. Salah satunya, drama realis yang mencakup cerita dari denyut hidup masyarakat. Mempersembahkan hal-hal yang paling sederhana dan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Drama realis lebih menuju ke kenyataan kehidupan. Meski dekat dengan aktivitas makhluk hidup, drama realis nyatanya lebih rumit. Pelaku dituntut untuk bekerja kolektif, bukan hanya kekuatan satu pemain.
"Drama realis lebih menggambarkan cerita keseharian yang ada di masyarakat atau di sekitar kita secara nyata atau realita keadaan. Mulai dari tokoh, ruang lingkup, hingga waktu," ujar pendiri Omah Kreatif Arturah Turah Hananto kepada Jawa Pos Radar Solo.
"Sedangkan non realis, cerita lebih bebas. Tidak harus nyata atau realistis, bisa berdasarkan imajinasi pencipta cerita. Baik tokoh atau ruang lingkup yang ditampilkan," imbuhnya.
Pendekatan drama realis berpacu pada akting yang sewajarnya. Sesuai kebutuhan, yang mendekati kenyataan. Tantangannya terletak pada bagaimana menghadirkan sesuatu yang serealis mungkin di atas panggung.
"Namun dengan catatan tetap wajar di atas panggung. Tanpa berlebih dalam berakting," ucapnya.
Baru-baru ini, mereka mengadakan Festival Drama Realis Remaja di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Mereka mengangkat drama realis karena menurutnya, drama realis bisa menyampaikan ilmu teater atau drama secara mendasar.
"Kami ingin teman-teman remaja ini benar-benar tahu dasar dari sebuah drama," ucapnya.
"Kami juga berharap betul kerja kolektif dari teman-teman itu lebih punya ruang komunikasi lebih antar teman, antar pelatih, antar kelompok, dan lain sebagainya. Karena di drama realis ini yang pasti akan melibatkan banyak orang," tambahnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy