Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Nostalgia Sunyi Bersama Komunitas Pecinta HP Jadul Solo Kohajas, Berburu Ringtone Khas hingga Sparepart Langka

Alfida Nurcholisah • Selasa, 2 Desember 2025 | 00:55 WIB
Anggota Kohajas setia merawat ponsel-ponsel jadul sebagai nostalgia. (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)
Anggota Kohajas setia merawat ponsel-ponsel jadul sebagai nostalgia. (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Layar monokrom yang bergaris, gemeretak keypad fisik saat mengetik pesan, hingga suara ringtone khas yang melengking—semua hal yang dianggap kuno justru menjadi keunikan tersendiri bagi anggota Kohajas

Komunitas yang berdiri sejak tahun 2017 ini aktif berbagi informasi vital seputar perangkat ponsel lama, mulai dari kondisi fisik, kelengkapan, hingga transaksi jual beli unit langka.

Bagi Krisna Indra Lesmana, ketua Kohajas, HP jadul bukanlah sekadar barang bekas yang tak bernilai. Ia memandang ponsel-ponsel lama itu sebagai sejarah personal bagi sebagian orang.

"Komunitas ini tumbuh dari generasi ke generasi. Kami melihat HP jadul justru memiliki nilai penting bagi beberapa orang. Ada yang melihat HP jadul kemudian teringat masa lalu saat masih menggunakan HP tersebut," jelas Krisna, menggambarkan daya tarik nostalgia yang kuat.

Meskipun ia mengakui peminatnya berkurang karena tergerus oleh fitur canggih smartphone, antusiasme para penggemar HP jadul masih terasa kuat di media sosial. Anggotanya pun beragam, ada yang berasal dari Solo, bahkan tak sedikit dari luar pulau.

"Ada yang mencari hanya untuk koleksi, ada juga yang memang digunakan untuk orang tuanya yang tidak bisa pakai Android, hanya bisa SMS atau telepon saja," imbuhnya, menunjukkan fungsi praktis ponsel lama yang tetap relevan.

Kohajas tidak hanya eksis secara daring. Komunitas ini rutin mengadakan kopdar (kopi darat), di mana para kolektor berkumpul. Suasana pertemuan ini selalu ramai, diisi dengan pameran koleksi, tukar cerita, bahkan proses jual-beli sparepart yang langka.

"Kita memang sering kumpul sekadar Kopdar sembari servis HP, atau cari sparepart HP yang diperlukan antar anggota," jelas Abdul Azis, salah seorang anggota, menekankan semangat saling bantu dalam komunitas ini.

Merawat HP jadul bukan tanpa tantangan. Ketersediaan sparepart adalah masalah utama, apalagi untuk unit-unit dari generasi 90-an atau awal 2000-an. Kendala lain yang lebih modern juga muncul. "Apalagi setelah sinyal 2G diblokir, kami kesulitan mencari provider yang ada sinyalnya," sambung Krisna.

Namun, kendala ini tidak mematahkan semangat. Bagi Krisna dan kawan-kawannya, aktivitas ini melampaui sekadar barang lama; ini tentang menjaga memori yang pernah ada.

Azis menyebut, HP jadul punya jiwa tersendiri. "Bagi mereka yang tumbuh di era 1990-an atau 2000-an awal, ponsel-ponsel itu menyimpan memori penting. SMS, ringtone khas, ketakutan pulsa habis saat butuh mengirim pesan. Semua jadi bagian dari nostalgia," ungkapnya.

Di tengah hiruk pikuk teknologi yang terus berlari kencang, Kohajas memilih untuk berjalan pelan, menjaga agar cerita dan kenangan dari era ponsel keypad fisik tidak hilang ditelan zaman. (alf/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno