RADARSOLO.COM—Di kawasan Underpass Joglo, suasana kerja terasa terburu-buru namun terarah. Pengerjaan kolam retensi terus dikebut, menyambut target penyelesaian akhir pada 20 Desember ini. Kecepatan kerja ini dipicu kebutuhan mendesak untuk segera memasang dua unit mesin pompa raksasa, yang menjadi jantung infrastruktur pengendalian banjir di area tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo Nur Basuki menjelaskan, proyek yang dikerjakan oleh pemerintah pusat sejak Juli 2025 ini harus rampung berbarengan dengan infrastruktur pendampingnya, seperti jaringan drainase di sekitarnya.
“Kolam Retensi rampung 20 Desember 2025, tinggal pasang pompa saja,” bebernya, Selasa (2/12) sore.
Ia merinci spesifikasi “senjata” baru Solo melawan air. Nanti ada dua pompa. Setiap pompa mampu memompa 300 liter per detik. Pembuangan dilanjutkan ke saluran air di Joglo. Semakin ke selatan semakin lebar.
Wali Kota Solo Respati Achmad Ardianto turun langsung ke lokasi pada Selasa sore, meninjau progres pengerjaan di lapangan. Di tengah sisa-sisa lumpur dan bisingnya alat berat, Wali Kota menyatakan pengerjaan Kolam Retensi telah mencapai 81 persen. Hanya menyisakan pekerjaan minor seperti pemasangan mesin pompa dan pagar pembatas.
Proyek ini, yang merupakan kerja sama sinergis antara Balai Besar Jalan Nasional dan DPUPR Kota Solo, dikerjakan secara paralel.
“Retensi sudah 81 persen, tinggal pompa. Ini sudah sesuai target,” kata wali kota dengan nada lega.
Ia menambahkan, pihaknya sudah melakukan pengecekan di lapangan. "Hujan-hujan baru-baru ini juga kita cek sudah teratasi,” ujarnya.
Pembangunan kolam retensi ini merupakan respons tegas Pemkot Surakarta terhadap fenomena banjir dan genangan yang muncul pasca pembangunan Underpass Joglo. Sejumlah kampung di sekitar underpass di wilayah Kelurahan Banjarsari terpantau rutin tergenang, membuat warga kewalahan menghadapi luapan air yang tak terhindarkan setiap hujan lebat turun.
Meskipun belum rampung 100 persen, kehadiran kolam retensi sudah memberikan napas lega bagi masyarakat Banjarsari.
“Dengan adanya fasilitas ini (walau belum rampung, Red) kami sudah bisa merasakan sudah tidak lagi tergenang seperti dulu. Air genangan tidak masuk ke rumah,” ujar Agus Setio, Ketua LPMK Kelurahan Banjarsari, mewakili suara warga.
Kesaksian warga ini menjadi bukti nyata keberhasilan awal proyek tersebut. Kolam Retensi ini kini bukan hanya sekadar infrastruktur, melainkan janji ketenangan bagi warga Banjarsari, menjamin air hujan kini akan ditampung dan dikendalikan oleh mesin-mesin berkekuatan 600 liter per detik, bukan lagi dibiarkan meluap hingga ke ambang pintu rumah. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno