RADARSOLO.COM – Penyelidikan kasus tewasnya seorang perempuan yang memilih mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai 4A Neo Solo Grand Mall terus bergerak ke babak baru.
Rangkaian fakta yang mulai terkuak perlahan menggambarkan adanya tekanan berat yang selama ini dipendam korban.
Tak hanya sempat mencurahkan isi hati kepada salah satu rekan kerjanya dua hari sebelum peristiwa tragis itu, polisi kini mengungkap temuan lain.
Korban ternyata pernah menuliskan keluhan dan curhatan di grup kantor—sebuah sinyal bahwa persoalan yang ia hadapi bukan hanya diketahui satu orang, melainkan seluruh anggota grup tersebut.
“Selain curhat dengan teman, korban juga pernah curhat di grup kantor bahwa dia punya masalah. Jadi bukan hanya satu orang yang mengetahui, satu grup itu tahu korban sedang menghadapi persoalan berat,” terang Wakasatreskrim Polresta Surakarta AKP Sudarmianto, Rabu (3/12) kemarin.
Meski begitu, lanjutnya, rekan-rekan kerja mengaku tak pernah membayangkan keluhan itu akan berujung pada aksi nekat melompat daKejaksaa
“Teman-temannya tidak sampai berpikir kalau akan berakhir seperti ini. Mereka menganggap curhat itu hanya bentuk keluh kesah biasa,” imbuhnya.
Hingga artikel ini diturunkan, polisi belum bisa meminta keterangan dari rekan kerja korban—baik individu yang sempat menerima curhatan secara pribadi maupun anggota grup kantor.
Para saksi disebut masih terkendala kesibukan pekerjaan dan meminta waktu sebelum bisa hadir memberikan keterangan.
“Sampai sekarang belum ada yang bisa kita mintai keterangan karena masih sibuk. Mereka akan memberi tahu kapan bisa dimintai keterangan. Tetap akan kita dalami,” tegas Sudarmianto.
Tak hanya rekan kerja, polisi juga akan menggali keterangan dari pihak keluarga. Namun langkah itu sengaja belum dilakukan karena keluarga korban masih dalam masa duka mendalam.
“Untuk memanggil keluarga pasti akan kita lakukan. Mungkin keluarga tahu apa penyebab pasti masalah yang dihadapi almarhumah. Tapi karena masih dalam suasana duka, belum kita lakukan. Nanti setelah keluarga siap, pemeriksaan akan dilakukan,” lanjutnya.
Polisi menilai pemeriksaan keluarga menjadi kunci karena mereka berpotensi mengetahui persoalan pribadi korban secara lebih rinci.
Meski sejumlah petunjuk mulai bermunculan, penyebab pasti korban mengakhiri hidupnya masih menjadi teka-teki.
Selain pemeriksaan saksi dan keluarga, penyidik juga menganalisis ponsel korban untuk menelusuri riwayat percakapan hingga komunikasi terakhir sebelum kejadian.
“Semua kemungkinan masih kita buka. Kita ingin melihat gambaran utuh sebelum menyimpulkan,” pungkas Sudarmianto. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy