RADARSOLO.COM - Temuan kasus baru HIV/AIDS pada usia remaja menjadi perhatian Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani. Pihaknya mendorong Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Solo untuk lebih masih dalam menggelar skrining.
Dalam Peringatan Hari AIDS Sedunia di Simpang Ngarsopuro, kemarin pagi (7/12), Astrid menilai bahwa temuan kasus HIV/AIDS di Kota Bengawan semakin mengkhawatirkan. Fenomena ini bukan hanya persoalan kesehatan semata, namun juga menyangkut masa depan generasi muda dan kesejahteraan sosial.
"Kami menjadi diingatkan atau adanya peringatan untuk semua bahwa epidemi ini masih nyata dan terus mengancam, terutama untuk generasi muda dan usia yang masih produktif," terangnya.
Data KPA Solo menunjukkan lebih dari 1.500 warga Solo terpapar HIV/AIDS. Didominasi usia remaja dan usia produktif. Kemudian ada temuan 20 kasus baru pada kelompok usia 0 sampai 19 tahun sepanjang Januari-September 2025, mengindikasikan rentannya generasi muda tertular virus mematikan tersebut. Di sisi lain, pihaknya mengapresiasi KPA Solo melalui respons cepatnya dalam melakukan skrining di lapangan.
"Ini harus kami respons dengan cepat dan fakta bahwa Solo berada di peringkat kedua setelah Kota Semarang di Jawa Tengah. Maka ini menjadi tanggung jawab kita bersama dalam rangka menjadikan program ini sebagai prioritas penanggulangan HIV/AIDS," hemat Astrid.
Pemkot Solo akan melibatkan berbagai pihak untuk pencegahan penularan HIV/AIDS ini sebagai prioritas utama dan menjadikan generasi muda sebagai agen perubahan. Melalui karang taruna, organisasi kepemudaan, komunitas-komunitas untuk bersama-sama memperkuat gerakan edukasi pencegahan dan dukungan sesama remaja.
"Tema hari ini 'The Youth Generation With Acting for HIV/AIDS' mengajarkan generasi muda bukan hanya kelompok yang rentan, tetapi kita semua dilibatkan sebagai agen perubahan agent of change pelopor untuk pencegahan dan mitra dalam penanggulangan," harap Astrid.
Sekretaris KPA Solo Widi Srihanto membenarkan bahwa sepanjang Januari-September 2025 ditemukan 288 kasus baru. Sementara data kumulatif selama 20 tahun terakhir mencatat sedikitnya ada 1.505 warga Solo yang terpapar HIV/Aids. Di mana 186 orang di antaranya telah meninggal dunia.
"Sebaran kasus bervariasi terutama risiko tinggi pekerja seks komersial hingga laki sama lelaki atau homoseksual. Kondisi sampai bulan ini 1.519 kumulatif kalau temuan baru 200 sekian ya," paparnya.
KPA Surakarta tidak hanya berfokus pada temuan kasus penularan saja, namun bagaimana mendampingi mereka sampai berdikari dalam berbagai hal termasuk ekonomi. Meski demikian sedikitnya ada ada 600 orang (penderita HIV/AIDS) yang hilang komunikasi atau loss follow up setelah mengetahui status kesehatannya hingga tidak bisa terpantau sampai saat ini.
"Ketika ditemukan kita dekati kita pantau tidak hanya obatnya tapi mereka ini kan butuh berdaya, minta bantuan apa untuk usaha kita fasilitasi dengan Kementerian Sosial, mau salon, mau angkringan kami bantu," ujar Widi. (ves/nik)
Editor : Kabun Triyatno