Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Merasa Mediasi Keraton Berat Sebelah, Kubu Purbaya Tolak Hadir dalam Pertemuan Kemterian Kebudayaan

Silvester Kurniawan • Senin, 15 Desember 2025 | 00:57 WIB
PB XIV Purbaya saat melantik bebadan Keraton Surakarta. (M Ihsan/Radar Solo)
PB XIV Purbaya saat melantik bebadan Keraton Surakarta. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Mediasi konflik raja kembar Keraton Surakarta Hadiningrat oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon gagal total. Kubu PB XIV Purbaya memiliki alasan kuat menolak menghadiri pertemuan di Jakarta pada Sabtu (13/12).

Pihak Purbaya menilai secara substantif merasa pertemuan tersebut berat sebelah dan menyoroti kejanggalan dalam komunikasi Kementerian Kebudayaan.

Juru Bicara PB XIV Purbaya, KPA Singonagoro menyampaikan beberapa alasan ketidakhadiran. Yang utama adalah dugaan ketidakberimbangan komunikasi dari pihak kementerian.

“Posisinya saat ini kan kami tidak pernah diajak ngobrol. Kalau konsepnya mau memfasilitasi kan harus duduk dulu. Kalau sudah mendengarkan dari sana, ya harus mendengarkan dari sini,” tegas Singonagoro.

Singonagoro juga menyoroti kejanggalan pada surat undangan yang ditujukan kepada KGPH Purbaya, padahal yang bersangkutan mengklaim telah bergelar PB XIV.

Selain itu, ia mempertanyakan urgensi dan substansi undangan yang disebut ngambang (tidak jelas) mengenai pelestarian keraton, terutama mengapa hanya Keraton Surakarta yang diundang padahal banyak keraton lain di Indonesia.

Kubu Purbaya juga secara terbuka mengkritisi kehadiran BRAy Putri Wulan Sari, putri KGPA Tedjowulan, yang menjabat sebagai Staf Khusus Menbud. Hal ini dinilai memperkuat dugaan ketimpangan komunikasi, mengingat Tedjowulan dan GKR Wandansari Koes Murtiyah (Gusti Moeng) dianggap memiliki hubungan yang intens dengan kubu yang mendukung Mangkubumi.

"Kalau secara jumlah, kita tahu Gusti Moeng dan Gusti Tedjo itu selalu bergandengan. Dari jumlah itu pihak sini (Purbaya) hanya tiga orang dan dari sana (Mangkubumi) ada delapan orang. Kami masih bingung posisinya Kementerian Kebudayaan itu seperti apa di sini,” ungkap Singonagoro.

Menanggapi kritik tersebut, Juru Bicara Mahamenteri KGPA Tedjowulan, KP Pakunagoro menegaskan bahwa peran putri Tedjowulan sebagai staf khusus menteri bidang hukum dan kekayaan intelektual tidak ada kaitannya dengan suksesi.

Ia menjelaskan bahwa BRAy Putri Wulan Sari hanya berperan sebagai penghubung komunikasi antara kementerian dan Tim Lima yang dibentuk bersama almarhum PB XIII.

"Kami fokus pada penyelamatan dan pemajuan keraton. Pertemuan sebelumnya (saat PB XIII masih hidup) Januari 2025, jauh sebelum surut dalem (meninggal). Jadi aneh saja kalau dihubungkan dengan suksesi dan kubu-kubuan," tegas Pakoenagoro.

Pakunagoro menegaskan bahwa fokus utama Tim Lima adalah revitalisasi dan pelestarian cagar budaya, seperti Panggung Sanggabuana dan Konservasi Tata Pamer Museum. Sebab itu, undangan kementerian ditujukan untuk membahas kelangsungan tata kelola dan cagar budaya, bukan urusan perebutan takhta. (ves/bun)

 

 

Editor : Kabun Triyatno
#PB XIV Purbaya #menteri kebudayaan fadli zon #Tedjowulan #gusti moeng #Keraton Surakarta Hadiningrat