Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Melawan Arus Pop Culture: Yusuf Ratda Mulya, Dalang Muda Solo yang Jatuh Cinta pada Wayang Sejak Usia Tiga Tahun

Alfida Nurcholisah • Selasa, 16 Desember 2025 | 02:00 WIB
Yusuf Ratda Mulya tampil mendalang dalam sebuah acara pagelaran wayang. (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)
Yusuf Ratda Mulya tampil mendalang dalam sebuah acara pagelaran wayang. (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di tengah gemuruh arus budaya populer yang membanjiri media sosial, di mana suara gamelan dan kisah wayang kulit perlahan kian sepi peminat, Yusuf Ratda Mulya bertekad menjaga seni pewayangan tetap hidup.

Pada usia 15 tahun, Yusuf bukan sekadar penonton wayang, melainkan dalang muda yang sejak kecil telah menjadikan wayang sebagai denyut nadinya.

Ketertarikan siswa kelas X SMAN 1 Solo ini pada dunia pewayangan berawal sejak usianya baru tiga tahun. Ia masih mengingat jelas momen pertama kali jatuh cinta pada wayang, ketika menonton pagelaran bersih desa hingga pagi.

“Waktu itu ada acara wayang bersih desa. Saya nonton dari malam sampai jam lima pagi, nggak tidur sama sekali,” ujar Yusuf saat ditemui di sekolah, Senin (15/12).

Sejak malam itulah, dunia wayang merasuki jiwa Yusuf. Di masa ketika kaset masih menjadi media utama, ia mengoleksi kaset-kaset wayang hampir setiap hari, memutarnya berulang-ulang di rumah. Dari sanalah proses belajarnya dimulai.

“Dari kaset-kaset itu saya mulai hafal bahasa wayang, suara dalang, suluk, sama tembangnya. Sedikit-sedikit saya pelajari sendiri,” katanya.

Melihat bakat dan ketekunan sang anak, ibunya, Hidayah Murwani, mengambil langkah penting. Dia mengantar Yusuf belajar secara terstruktur di Sanggar Padepokan Seni Sarotama, Ngringo, Karanganyar.

Di sana, Yusuf ditempa dari hal paling dasar selama empat tahun (2018–2022). Ia tidak langsung diajari tampil, melainkan belajar cara duduk dalang yang benar, memegang gapit (tangkai wayang), mengenal karakter, hingga memahami struktur pakeliran (pementasan). Ia dituntut mengulang gerakan yang sama berkali-kali demi membentuk disiplin.

Hasilnya mulai terlihat ketika Yusuf duduk di kelas 4 SD pada 2019. Ia memberanikan diri mengikuti lomba dalang cilik di Balai Kota Solo dan berhasil meraih juara dua tingkat kota.

Prestasi itu menjadi langkah awal. Yusuf kemudian dikenal, dan undangan tampil mulai berdatangan. Namun ia tetap rendah hati dan menyadari bahwa dalang, sinden, dan pengrawit adalah satu kesatuan.

"Dalang sehebat apa pun kalau karawitannya nggak jalan, ya pakeliran nggak akan hidup,” jelasnya.

Puncaknya, pada kelas 3 SMP tahun 2024, Yusuf meraih predikat juara mumpuni (satu tingkat di atas juara 1) di Festival Dalang Anak Tingkat Nasional di Jakarta.

Namun, pengalaman paling membekas justru datang dari sebuah kegagalan di tahun yang sama. Saat membawakan lakon Dewa Ruci di lomba dalang cilik Univesitas Negeri Yogyakarta (UNY), gapit wayang tokoh utama yang ia mainkan tiba-tiba patah.

“Waktu itu gapit-nya patah, padahal tokoh utama. Saya sempat kaget, tapi saya berusaha enggak panik,” kenangnya.

Ia memilih melanjutkan pementasan hingga selesai. “Saya tetap mainkan wayangnya, tetap saya usahakan berdiri tegak. Yang penting cerita jalan sampai akhir,” ujarnya. Kegagalan itu diterimanya dengan lapang dada.

Bagi Yusuf, wayang bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan warisan yang harus dijaga. “Sekarang banyak pagelaran wayang mulai punah. Kalau bukan kita, generasi muda, siapa lagi?” tegasnya.

Ia berharap anak muda setidaknya mau mulai menyukai wayang. “Mulai suka saja sudah jadi bentuk apresiasi untuk melestarikan budaya Jawa.”

Ke depan, Yusuf bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Sastra Jawa Univesitas Gadjah Mada (UGM) atau Institut Seni Surakarta (ISI) Surakarta, berharap kelak bisa menjadi dosen. Semua ini ia lakukan sambil mewujudkan mimpi almarhum sang ayah.

“Dulu cita-cita bapak saya, saya bisa jadi dalang yang hebat dan bisa ke mana-mana. Alhamdulillah sekarang pelan-pelan terwujud,” katanya.

Sang ibu, Hidayah Murwani, pun setia menemani setiap langkahnya, dari mengantar sekolah hingga mendampingi pentas dari satu daerah ke daerah lain. “Ibu selalu menemani saya tampil. Beliau malah senang karena bisa sekalian jalan-jalan,” ucap Yusuf sambil tersenyum, menutup kisah perjuangan seorang remaja yang memilih memegang gapit daripada gawai. (alf/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#pementasan #Dalang Cilik #wayang kulit