RADARSOLO.COM - Peresmian revitalisasi Panggung Sangga Buwana pada Selasa malam (16/12) menyisakan ketegangan baru di internal Keraton Surakarta. GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani mengecam keras aksi Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama sejumlah tokoh keraton yang masuk dan naik ke menara ikonik tersebut.
Menurut kubu PB XIV Purbaya, tindakan tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap adat karena Panggung Sangga Buwana merupakan area paling sakral yang aksesnya sangat terbatas.
GKR Timoer menjelaskan bahwa secara turun-temurun, Panggung Sangga Buwana adalah tempat suci yang hanya boleh dimasuki oleh raja dan orang-orang tertentu yang telah disumpah secara khusus oleh raja.
Baca Juga: Tak Mau Kecolongan Parkir Liar, Dishub Solo Siapkan Posko di Masjid Zayed hingga Balekambang
Ia menyayangkan giat peninjauan tersebut karena dianggap melanggar tatanan nilai yang berlaku di keraton. Selain masalah kesakralan, Timoer juga menyoroti ketiadaan koordinasi dari pihak panitia peresmian dengan bebadan keraton bentukan PB XIV Purbaya terkait agenda menaiki menara tersebut.
"Kalau Sangga Buwana kami tidak diajak rembukan masalah mereka akan naik. Menurut saya itu pelecehan adat ya, karena itu tempat sakral yang hanya boleh dimasuki oleh raja dan orang yang sudah disumpah," tegas anak tertua mendiang PB XIII tersebut pada Kamis (18/12).
Baca Juga: Kronologi OTT KPK di Banten Amankan Jaksa dan Sita Uang Tunai Rp900 Juta, Kasus Apa?
Ia menambahkan bahwa koordinasi yang sebelumnya dibahas di Balaikota Solo hanya sebatas peninjauan area Museum Keraton, bukan masuk ke dalam menara Sangga Buwana.
Menanggapi tudingan tersebut, pihak KGPA Mahamenteri Tedjowulan melalui juru bicaranya KP Pakunagoro memberikan pembelaan. Pakoenagoro menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tersebut telah mengantongi izin dari Maha Menteri Tedjowulan yang memegang fungsi ad interim raja sekaligus Ketua Tim Lima Revitalisasi. Ia mengaku heran mengapa hal ini baru dipermasalahkan sekarang, padahal aksi serupa pernah dilakukan sebelumnya tanpa menuai protes.
Tedjowulan membeberkan fakta bahwa pada kunjungan kerja pertama tanggal 23 Januari 2025, saat mendiang PB XIII masih hidup, Menteri Kebudayaan juga telah masuk dan naik ke Panggung Sangga Buwana untuk keperluan rencana revitalisasi.
Saat itu, tidak ada satu pun pihak keluarga yang melayangkan protes atau menyebutnya sebagai pelanggaran adat. Oleh karena itu, kubu Tedjowulan menilai kritik yang dilontarkan saat ini cenderung tendensius mengingat status Panggung Sangga Buwana yang baru saja selesai dipugar oleh negara demi kepentingan pelestarian cagar budaya. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno