RADARSOLO.COM - Tempat tidur, cermin, meja, layar gawai, pintu, hingga gedung yang kita tinggali, nyaris semuanya hadir dalam bentuk segi empat. Dari kesadaran sederhana itulah Razan Wirjosandjojo merangkai karya berjudul Soft Square.
Melalui perpaduan gerak dan bunyi, Soft Square mengeksplorasi proses menjelma persegi yang lembut.
Bingkai yang cair, petak yang lunak, dan tembok yang empuk. Sebuah metafora tentang perubahan bentuk keteraturan yang terus-menerus melenturkan diri dari tatanan sebelumnya.
Karya ini pertama kali dirancang pada 2024. Sejak pemanggungan perdananya di Kota Bengawan pada akhir tahun lalu, Soft Square terus berkelana.
Mulai dari Bangkok (2024), India pada Maret 2025, Padang pada April, kembali dipresentasikan di Solo pada Juni–Juli, hingga terbaru tampil di Bali Performing Arts, awal November.
“Soft Square mulai dikerjakan pada awal tahun 2024. Yang mana pada saat itu saya tertarik untuk satu hal yang mungkin cenderung sederhana, memperhatikan segi empat yang ada di sekitar kita,” ujar Razan kepada Jawa Pos Radar Solo.
Baca Juga: Segaran Sriwedari Dua Tahap Lagi Menuju Kolam Retensi
Kesadaran itu membawa Razan pada satu temuan: hampir semua hal yang disentuh, dilihat, dan dilewati manusia berbentuk segi empat.
Dari sana, segi empat tak lagi hadir sebagai sekadar objek visual, melainkan pola yang ikut membentuk perilaku manusia.
“Karena secara sadar atau tidak sadar, akhirnya kan benda-benda tersebut juga mempengaruhi cara kita berperilaku, cara kita berinteraksi satu sama lain,” paparnya.
Bentuk geometris itu, menurut Razan, tidak hanya menciptakan ruang fisik, tetapi juga berpengaruh pada kondisi mental manusia. Segi empat kerap merepresentasikan upaya manusia menciptakan struktur dan kendali.
“Jadi bagaimana segi empat itu hampir selalu menyiratkan atau secara gamblang memperlihatkan upaya manusia untuk menciptakan struktur atau kerangka, sekaligus mewujudkan kendali,” lanjutnya.
Dari pemikiran tersebut, Soft Square hadir sebagai metafora. Razan membayangkan satu bentuk kerangka yang tak lagi kaku seperti persegi konvensional—empat garis lurus dengan sudut 90 derajat yang tegas.
“Namun kemudian dalam perkembangannya di geometri, non-euclidean geometri itu mewujudkan hal yang lain. Bahwa geometri itu tidak selalu perlu didefinisikan dalam bentuk yang konvensional seperti dalam konsep euclidean,” ucapnya.
Pemikiran itu, menurut Razan, selaras dengan realitas kehidupan hari ini. Struktur sosial dan kemanusiaan pun terus berkembang, tidak lagi rigid, tetapi menghalus dan mencair.
“Namun, dia menjadi sesuatu yang lembut,” sambungnya.
Dalam proses penciptaannya, Razan mengakses gagasan Soft Square dari dua sisi: geometri dan memori.
Dari sisi geometris, segi empat dipahami sebagai kerangka matematis sekaligus cara berpikir filosofis. Dari sisi lain, karya ini bersentuhan dengan ingatan personal.
“Soft Square ini juga berkaitan banyak dengan ingatan. Juga ingatan dengan ayah saya, karena berkaitan dengan struktur, berkaitan dengan kendali. Ruang pertama saya untuk belajar tentang apa itu struktur, itu muncul dari bapak saya,” tutur Razan.
Ingatan itu hadir melalui hal-hal sederhana di masa kecil, seperti melipat selimut dan handuk.
Tak heran, handuk kemudian menjadi material penting dalam dunia Soft Square, membawa muatan memori yang kuat. Dalam pertunjukannya, Soft Square memiliki struktur besar, namun tanpa gerak yang dihafalkan secara baku.
“Jadi saya memang bertumpu pada bagaimana kemudian kerangka geometri dan ingatan yang saya miliki menghasilkan dorongan untuk menciptakan gerak,” pungkasnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy