RADARSOLO.COM – Kampung Batik Kauman masih menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan di Kota Solo, saat moimen libur tiba. Meski minat kunjungan wisatatawan terbilang tinggi, tingkat pembelian batik justru mengalami penurunan signifikan.
Salah seorang pengunjung, Nadia Anggita wisatawan asal Bogor mengaku, sengaja memilih Solo sebagai destinasi liburan kali ini karena ingin kembali belajar tentang warisan budaya.
“Sudah lama nggak belajar heritage. Sudah bosan ke Jogja, jadinya ingin eksplor Solo. Kemarin sempat nonton wayang orang di Sriwedari, hari ini (25/12) mau belajar membatik di Kampung Batik Kauman,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (25/12).
Nadia menyebut, kunjungannya ke Solo sudah memasuki hari kedua. Selain Kampung Batik Kauman, ia juga telah mengunjungi Pura Mangkunegaran dan menikmati pertunjukan wayang.
“Kalau ke Solo ya nggak jauh-jauh dari kuliner juga. Dari kemarin kebanyakan cari makan khas Solo, besok rencananya mau kulineran di Pasar Gede juga,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan wisatawan asal Jakarta Annisa. Ia memilih Kampung Batik Kauman sebagai salah satu destinasi utama dalam kunjungan singkatnya ke Solo.
“Sehari di Solo rencananya emang ke Batik Kauman dan Pasar Gede aja. Di sini mau foto-foto dan mungkin cari batik juga,” katanya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Kampung Batik Kauman Gunawan mengatakan, intensitas kunjungan wisatawan terus meningkat. Bahkan, hampir setiap hari ada aktivitas belajar membatik yang diikuti berbagai kalangan.
“Yang datang semakin ramai, bahkan ada rombongan besar sekira 30-40 orang, kebanyakan dari luar kota. Hampir setiap hari ada yang belajar batik, mulai dari anak-anak sekolah, pondok pesantren, banyak juga yang kunjungan pribadi,” jelasnya.
Namun, Gunawan mengakui bahwa tingginya kunjungan tidak berbanding lurus dengan penjualan batik. “Kebanyakan pengunjung datang untuk wisata dan kuliner khas Solo. Yang beli batik justru turun drastis, hampir lebih dari 50 persen. Mereka malah banhak cari makanan, es teh, es potong, dawet dan lain-lain,” ungkapnya.
Gunawan menilai, perubahan cara belanja masyarakat menjadi salah satu faktor utama penurunan penjualan batik secara langsung. “Sekarang batik sudah banyak tersedia secara online, jadi kemungkinan mereka beli lewat sana,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pengelola Kampung Batik Kauman. Gunawan menyebut, perlu adanya penyesuaian harga produk agar sesuai dengan daya beli pengunjung, serta strategi pemasaran digital yang lebih ditingkatkan. “Mungkin barang yang dijual harus menyesuaikan budget pengunjung, dan kami juga harus lebih gencar bermain di online shop,” pungkasnya. (alf/nik)
Editor : Kabun Triyatno