RADARSOLO.COM – Harapan warga Kampung Todipan, Purwosari, untuk terbebas dari ancaman banjir menahun mulai menemui titik terang. Proyek normalisasi drainase di kawasan rawan genangan tersebut resmi rampung sepekan lalu. Dengan pengerukan sedimentasi yang masif dan peninggian parapet (dinding sungai), sistem pembuangan air di wilayah Laweyan ini kini diklaim jauh lebih siap menghadapi puncak musim penghujan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo Nur Basuki mengungkapkan, proyek ini menggunakan kucuran bantuan gubernur Rp3 miliar. Fokus utama pekerjaan adalah memperdalam saluran guna memastikan aliran air tetap lancar meskipun hujan mengguyur dengan durasi lama.
“Wilayah Todipan selama ini menjadi langganan genangan karena aliran air mampet akibat sedimentasi. Dengan rampungnya proyek ini, risiko luapan air ke pemukiman warga bisa kita tekan secara signifikan,” ujar Nur Basuki, Minggu kemarin (28/12).
Meskipun Todipan sudah tertata, pekerjaan rumah Pemkot Solo masih menumpuk. Tahun depan, DPUPR berencana menyambungkan sistem drainase Todipan dengan saluran di sepanjang Jalan KH Samanhudi (Mangkuyudan). Namun, proyek lanjutan ini dibayangi keterbatasan anggaran dan kendala teknis di lapangan.
Nur Basuki menyebut kebutuhan ideal untuk merampungkan normalisasi hingga jembatan penghubung mencapai Rp 6 miliar. Sayangnya, APBD 2026 hanya mampu mengalokasikan dana sekira Rp 4 hingga Rp 4,5 miliar.
Selain celah anggaran sebesar Rp1,5 miliar, tantangan berat lainnya adalah banyaknya bangunan warga yang menutup area saluran drainase. Hal ini menuntut keberanian pemerintah dalam melakukan koordinasi wilayah serta penertiban demi kelancaran proyek fisik.
"Kebutuhannya memang Rp 6 miliar, tapi kita maksimalkan anggaran yang ada. Tantangan terbesarnya adalah banyak area yang tertutup bangunan warga, ini yang akan kami koordinasikan lebih lanjut," jelasnya.
Proyek drainase di kawasan Purwosari dan Samanhudi ini memang menjadi perhatian khusus Wali Kota Solo Respati Ardi. Dalam beberapa kali tinjauan lapangan, Respati menekankan bahwa kelancaran jalur pembuangan air adalah harga mati untuk menjaga kenyamanan warga.
"Tahun depan akan dilanjutkan. Intinya, kita kerjakan sampai tuntas agar tidak ada lagi cerita banjir dan genangan di Todipan maupun Samanhudi," tegas Respati belum lama ini.
Investasi infrastruktur ini diharapkan tidak hanya menjadi proyek fisik musiman, melainkan solusi permanen bagi tata kelola air di wilayah barat Kota Bengawan yang kian padat. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno