RADARSOLO.COM – Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) membawa berkah nyata bagi pedagang Pasar Gede Solo. Jumlah pengunjung melonjak hingga dua kali lipat dan diprediksi masih akan bertahan padat hingga sepekan ke depan.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Gede Jumadi mengatakan, lonjakan pengunjung sudah terasa sejak awal libur panjang. Kehadiran sentra kuliner di lantai dua menjadi salah satu faktor utama yang mendongkrak intensitas kunjungan wisatawan.
“Di Pasar Gede memang terjadi lonjakan pengunjung dan saya prediksi sampai pekan depan. Sejak ada kuliner di lantai dua, wisatawan makin padat,” kata Jumadi, kemarin (28/12).
Wisatawan yang datang tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa, tetapi juga dari luar pulau. Hal itu terlihat dari kendaraan yang terparkir di sekitar kawasan pasar.
“Kalau dilihat dari plat nomor, hampir seluruh Pulau Jawa datang ke sini. Bahkan ada dari luar pulau seperti Lampung dan Sulawesi,” ujarnya.
Menurut Jumadi, pada hari biasa selama liburan, jumlah pengunjung Pasar Gede berkisar 2.500–3.000 orang per hari. Namun saat akhir pekan melonjak menjadi 4.000–6.000 orang, bahkan selama libur Nataru pasar sudah dipadati pengunjung sejak pagi hari.
“Mulai pukul 07.00 WIB pasar sudah penuh. Terutama di lantai dua, antreannya bisa panjang. Naik tangga saja sudah mengantre keluar, waiting list-nya bisa sampai ratusan orang,” ungkapnya.
Untuk memastikan seluruh pedagang tetap kebagian pembeli, sebanyak 112 pedagang Pasar Gede telah bekerja sama dengan Dinas Perdagangan sejak 2023. Upaya yang dilakukan meliputi penataan ulang lokasi, perbaikan layout, hingga peningkatan pelayanan dan kualitas rasa.
“Kalau masih ada yang sepi, kami upayakan dikenalkan lagi. Pelayanannya ditingkatkan, lokasinya dibenahi. Jadi lonjakan pengunjung tetap bisa terdistribusi meski harus menunggu tempat,” jelas Jumadi.
Di tengah padatnya aktivitas, paguyuban bersama Dinas Perdagangan dan Kantor Pasar juga memperkuat koordinasi untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kebersihan selama libur Nataru.
“Memang banyak pengamen dan pengemis yang masuk. Meski sudah dikondisikan, masih ada yang kucing-kucingan dengan petugas. Kami juga mengimbau pengunjung menjaga barang bawaan untuk mengantisipasi copet,” katanya.
Dari sisi penjualan, hampir seluruh komoditas laku keras, mulai dari kuliner, oleh-oleh, hingga buah-buahan.
“Kalau ada 100 orang masuk, minimal 30 orang pasti beli. Yang penting ada tempat duduknya,” imbuhnya.
Salah seorang pengunjung, Yeti Masrah, wisatawan asal Jakarta, mengaku sengaja datang ke Solo untuk berburu kuliner dan batik setelah sebelumnya berwisata di JogjOnjekakarta.
“Kami ke Solo memang cari kuliner dan batik. Tadi beli batik di Kauman, lalu nyobain es dawet Bu Wiji dan selat Vien’s yang lagi viral. Ini pertama kali saya ke Solo, tapi anak saya sudah sering, jadi dia yang jadi pemandu,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Paula Mukti Lestari, pengunjung yang datang bersama rombongan keluarga dari Lombok, Salatiga, Jakarta, dan Purwokerto. Mereka memilih Solo sebagai tujuan liburan karena dinilai lebih nyaman.
“Kami pilih Solo karena Jogja sudah terlalu ramai dan macet. Walaupun ternyata Solo juga macet, tapi makanannya banyak dan cocok buat belanja oleh-oleh,” katanya.
Paula menyebut rombongannya yang berjumlah sekitar 20 orang sengaja memanfaatkan satu hari penuh untuk berkeliling sebelum kembali ke daerah masing-masing.
“Hari ini puas-puasin jalan-jalan, karena besok sudah harus pulang. Senin sudah mulai kerja lagi,” pungkasnya. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno