RADARSOLO.COM - Usaha pembuatan terompet yang ditekuni pasangan suami istri Sri Rahayu dan Warseno di kawasan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo mengalami penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, sejak dirintis pada 1992, usaha tersebut sempat berjaya dengan jumlah pesanan mencapai belasan ribu terompet menjelang pergantian tahun.
Sri Rahayu mengungkapkan, sebelumnya produksi terompet bisa mencapai 10 ribu hingga 15 ribu pesanan. Namun kini jumlahnya merosot tajam dan hanya mampu memproduksi sekira 5 ribu terompet.
“Dulu saya kirim ke Solo Raya semua dan Jogja, kalau sekarang cuma Solo saja itu pun cuma beberapa, malah banyak pesanan dari Jogja tapi dari hotel,” ujar Sri Rahayu, Selasa (30/12).
Menurutnya, penurunan permintaan terompet mulai terasa sejak munculnya tragedi fenomena kover Alquran dijadikan terompet. Hal ini berdampak besar pada persepsi masyarakat terhadap produk tersebut.
“Sejak kejadian itu, produksi terompet semakin menurun. Ada larangan juga untuk meniupkannya di tahun baru, karena katanya haram," imbuhnya.
Warseno mengenang pada 2015 lalu, rumahnya kerap didatangi aparat untuk memeriksa kover yang digunakan sebagai bahan baku terompet. Namun ia meyakini tidak pernah melakukan hal serupa.
"Karena itu terompet banyak yang dilarang. Kami sangat menyayangkan, karena pesanan tidak lagi banyak seperti tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Lebih lanjut ia menegaskan, selama ini bahan terompet dibuat dari kover buku bekas yang dibeli dari percetakan, bukan dari kitab suci. Sementara itu, empet sumber bunyi terompet dipesan dari wilayah Wonogiri.
“Pembuatan terompet ini pakai kover buku bekas dari percetakan, bukan yang lain. Untuk empet atau sumber bunyinya, kami pesan dari Wonogiri,” jelasnya.
Selain faktor permintaan yang menurun, perajin juga menghadapi kendala mahalnya bahan baku, khususnya lapisan terompet yang kini sulit didapat.
“Sekarang susah cari lapisan terompet, harganya mahal bisa sampai seratus ribuan, tapi kami nggak bisa jual lebih mahal karena kebanyakan yang pesan itu bakul-bakul pinggir jalan dan hotel,” ungkapnya.
Harga jual terompet pun terpaksa dipertahankan agar tetap terjangkau. Untuk satu buah terompet, Warseno membanderol harga mulai dari Rp 4 ribu.
“Harganya per terompet antara Rp 4 ribu sampai Rp 9 ribu, tergantung jenisnya. Ada terompet biasa, terompet naga, terompet keong, terompet saxophone, sampai topi kertas,” paparnya.
Meski kondisi usaha sedang sulit, Sri Rahayu dan Warseno berharap ke depan minat masyarakat terhadap terompet kembali meningkat, sehingga usaha yang telah mereka bangun puluhan tahun dapat terus bertahan. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto