RADARSOLO.COM – Keterbatasan jumlah dokter gigi di Indonesia menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan. Jumlah dokter gigi yang belum ideal mendorong pemerintah meminta perguruan tinggi dan rumah sakit pendidikan untuk melakukan ekspansi mahasiswa kedokteran gigi, tanpa mengabaikan mutu layanan dan keselamatan pasien.
Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Soelastri Amelia Elizabet Pranoto mengatakan, kebijakan tersebut selaras dengan kondisi nasional yang saat ini kekurangan 4.000 dokter gigi.
Dia menambahkan, saat ini, RSGM Soelastri yang terafiliasi dengan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menampung sekira 270 mahasiswa profesi.
“Rasio dokter gigi di Indonesia memang masih kurang ideal. Karena itu Menteri Kesehatan meminta adanya ekspansi mahasiswa kedokteran gigi. Namun, kami tetap menyesuaikan dengan kapasitas yang bisa kami terima,” jelasnya.
Dari sisi fasilitas, Amelia menegaskan RSGM Soelastri telah memenuhi standar Kementerian Kesehatan sebagai rumah sakit khusus gigi dan mulut. Mulai dari pelayanan klinik, kursi gigi yang terstandarisasi, hingga peralatan penunjang seperti rontgen gigi dan teknologi 3D telah tersedia sesuai ketentuan nasional.
Tak hanya itu, bangunan rumah sakit juga dirancang sesuai standar, termasuk sistem sirkulasi udara dan pengendalian pola kuman. “Setiap bulan kami melakukan sampling untuk melihat kuman yang ada di ruang praktik maupun ruang operasi,” ujarnya.
Amelia mengungkapkan, kasus terbanyak yang ditangani di RSGM Soelastri adalah infeksi yang berawal dari gigi berlubang. Namun, banyak pasien datang berobat saat kondisi sudah parah. Padahal, infeksi gigi yang dibiarkan dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh dan berpotensi berakibat fatal.
“Infeksi bisa menyebar ke struktur vital seperti leher dan paru-paru. Kalau sudah seperti itu, kita hanya bisa mengandalkan antibiotik dan pertolongan Tuhan. Bahkan bisa menyebabkan gagal napas,” ungkapnya.
Berdasarkan data nasional, kasus infeksi di bidang kedokteran gigi mencapai 20 persen pada 2018. Sementara dalam satu tahun terakhir, RSGM Soelastri mencatat sekira 20 kasus infeksi serius, sebagian di antaranya harus dirujuk ke rumah sakit rujukan.
Dia mengingatkan, infeksi gigi yang dibiarkan akan semakin membesar, terutama saat kondisi tubuh menurun.
“Kalau gigi memang sudah tidak bisa diselamatkan, maka harus dicabut. Jangan menunggu sampai infeksinya menyebar,” tegas Amelia.
Dia berharap masyarakat lebih peduli dengan kesehatan gigi. Menurutnya, pemenuhan jumlah doker gigi yang menyebar hingga tingkat puskesmas sangat diperlukan. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy