Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Biji Kopi Berpotensi Jadi Penyumbang Inflasi di Solo, Efek Industri Coffee Shop Kian Menjamur

Silvester Kurniawan • Rabu, 7 Januari 2026 | 20:19 WIB

 

BERKEMBANG: Dusun Stabelan di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali yang terletak dikaki Gunung Merapi memiliki destinasi pengembangan biji kopi.
BERKEMBANG: Dusun Stabelan di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali yang terletak dikaki Gunung Merapi memiliki destinasi pengembangan biji kopi.
 

RADARSOLO.COM – Pemkot Solo bakal menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah lain yang merupakan penghasil kopi dengan kualitas baik di Indonesia. Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga kestabilan ekonomi dan inflasi di Kota Bengawan.

Wali Kota Solo Respati Ardi membenarkan pertumbuhan industri coffee shop terbilang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hingga akhir 2025 saja sedikitnya ada 174 coffee shop muncul di Solo.

Hal ini memunculkan fenomena baru, di mana animo masyarakat semakin tinggi dalam konsumsi kopi di Kota Bengawan. Oleh sebab itu perlu dilakukan sejumlah antisipasi agar komoditas biji kopi tidak menjadi penyumbang inflasi di Kota Solo.

“Penyumbang inflasi di kita, seperti cabai, bawang merah dan bawang putih, tetapi ada (fenomena) kenaikan inflasi karena didorong industri coffee shop yang semakin tinggi dalam beberapa tahun terakhir,” terangnya, Rabu (7/1/2026).

Respati melihat konsumsi kopi atau permintaan biji kopi semakin tinggi, seiring munculnya banyak pelaku dan industri olahan kopi di Solo dalam satu, dua tahun terakhir. Permintaan tinggi akan biji kopi ini bisa memicu kenaikan harga baku yang tidak wajar.

Fenomena itu akan berdampak menjadi hal yang tidak sehat untuk stabilitas ekonomi daerah, karena pertumbuhan industri yang terlalu drastis.

“Untuk menekan harga dan menjaga ketersediaan biji kopi, kami berupaya untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah lain, terutama untuk daerah penghasil biji kopi dengan kualitas yang baik. Misalnya seperti Temanggung atau daerah lainnya. Ini supaya harga bisa stabil dan tidak saling bunuh (antar pelaku usaha, Red),” hemat Respati Ardi.

Sekadar informasi, Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo menunjukkan Kota Solo mengalami inflasi year of year sebesar 2,83 persen pada November 2025 lalu.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,13 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,77 persen. Sementara kelompok penyedia makanan dan minuman (restoran) menyumbang inflasi sebesar 0,49 persen.

“Sebetulnya inflasi masih stabil karena ada bantuan dari pusat. Terkait menjamurnya coffee shop di Solo mungkin Pak Wali ada imbauan khusus, nanti kami akan cek ke lapangan,” ucap Anggota Komisi II DPRD Kota Solo Ahmad Sapari. (ves/nik)

 

Editor : Niko auglandy
#Cofee shop #ekonomi #kota bengawan #kopi #fenomena #kota solo #inflasi