Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pemkot Solo Genjot Pemanfaatan Lahan Terbatas untuk Ketahanan Pangan, Ternyata Ini Alasannya

Silvester Kurniawan • Rabu, 7 Januari 2026 | 20:32 WIB
TURUN KE LAPANGAN: Wawali Astrid Widayani melihat peternakan ayam di Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari, Rabu (7/1/2026).
TURUN KE LAPANGAN: Wawali Astrid Widayani melihat peternakan ayam di Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari, Rabu (7/1/2026).

 

RADARSOLO.COM – Pemkot Solo mendorong pemanfaatan lahan terbatas untuk urban farming, baik untuk bercocok tanam maupun upaya berternak di area perkotaan. Hal ini disampaikan bersamaan dengan giat Panen Raya dan Swasembada Pangan yang dihelat oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia secara daring, Rabu (7/1).

Dalam kegiatan itu, Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani bersama jajaran pemkot meninjau area persawahan yang ada di kawasan Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari. Selanjutnya ada giat sosialisasi pada masyarakat terkait urban farming dan sejenisnya dan diikuti dengan tinjauan ke peternakan ayam yang sebelumnya menerima bantuan 600 ekor ayam dari Kementerian Pertanian.

“Bantuan ayam petelur ini diharapkan bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Selain untuk memenuhi gizi, program ini dapat menjadi sumber penghasilan berkelanjutan untuk masyarakat,” hematnya.

Dalam kesempatan yang sama, Astrid juga meninjau kolam budi daya lele yang digarap oleh masyarakat setempat di kawasan Kelurahan Banyuanyar itu. Pihaknya berharap budi daya ikan air tawar yang dilakukan di kolam-kolam sederhana itu tidak hanya sebatas dipanen untuk langsung dikonsumsi namun juga bisa ditingkatkan nilainya dengan diolah menjadi produk-produk pangan yang baru. Misalnya diolah menjadi abon, nugget, bakso atau produk olahan pangan lainnya.

“Lele ini relatif mudah dibudi daya. Tidak perlu lahan luas, cepat panen, punya kandungan gizi yang baik, dan bisa dikembangkan jadi produk olahan bernilai ekonomis tinggi. Ini bisa jadi solusi ketahanan pangan sekaligus penguatan ekonomi masyarakat,” hemat perempuan yang akrab disapa Mbak Wawali itu.

Dia menegaskan, program urban farming yang dikelola masyarakat seperti berkebun dan beternak di lahan terbatas itu sejalan dengan upaya pemerintah kota dalam mendorong tumbuhnya UMKM dari sektor pangan. Oleh sebab itu peningkatan nilai tambah produk lokal perlu dioptimalkan agar bisa membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Pemkot Solo akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, khususnya dalam mendukung berbagai program ketahanan pangan seperti budi daya ikan air tawar, pengembangan peternakan skala rumah tangga, hingga penguatan melalui pendampingan dan pelatihan.

"Kami optimistis dapat berkontribusi dalam mendukung program swasembada pangan nasional sekaligus mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan di tengah keterbatasan lahan perkotaan,” tegas Astrid.

Khusus di Solo yang bukan sebagai wilayah penyangga pangan, baik dari sektor pertanian atau peternakan, memang fokus saat ini adalah pada upaya urban farming. Baik di lahan milik instansi pemerintah, sekolah, maupun di lingkungan permukiman. Semua bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan peningkatan ekonomi.

“Sejauh ini pemerintah kota memberikan bantuan berupa benih tanaman maupun benih ikan. Kemudian ada bantuan untuk jenis hewan ternak lainnya plus pendampingan untuk kelompok-kelompok tani dari pembudidayaan hingga penguatan produk pangan lainnya,” imbuh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Solo Wahyu Kristina. (ves/nik)

Editor : Niko auglandy
#pangan #Banjarsari #sosialisasi #warga