RADARSOLO.COM-Menjamurnya industri kedai kopi (coffee shop) di Kota Solo memberikan dampak signifikan pada pergerakan inflasi daerah.
Merespons kenaikan harga serta kelangkaan bahan baku di akhir tahun, Pemkot Solo berencana membentuk Holding UMKM Coffee Shop guna menyetabilkan harga biji kopi dan bahan pendukung lainnya.
Langkah strategis ini diambil setelah data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelompok penyedia makanan dan minuman (restoran) menjadi salah satu penyumbang inflasi di Solo, di samping kelompok pangan dan tembakau.
Intervensi Kelangkaan Biji Kopi dan Susu
Walikota Solo Respati Ardi mengungkapkan bahwa tingginya permintaan pasar terhadap minuman kopi di Solo tidak dibarengi dengan ketersediaan stok bahan baku yang stabil.
Kondisi ini memicu lonjakan harga yang berisiko pada daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha.
“Pada libur akhir tahun kemarin, terjadi kelangkaan biji kopi dan susu. Inilah yang akan diintervensi pemerintah. Kami ingin menyetabilkan harga melalui manajemen rantai pasok yang lebih terorganisir,” ujar Respati, Minggu (11/1/2026).
Kolaborasi dengan Kementerian UMKM dan Perbankan
Rencana pembentukan Holding UMKM atau BUMD khusus industri kopi ini telah dikoordinasikan dengan Kementerian UMKM.
Skemanya akan melibatkan pelaku coffee shop yang memiliki bisnis sangrai (roastery) di Solo untuk berkumpul dalam satu payung usaha.
“Saya sudah meminta bantuan kepada Wamen UMKM sekaligus Komisaris BRI. Pekan depan, Pak Wamen dijadwalkan memberikan bantuan intervensi langsung. Tujuannya agar para pelaku industri kopi di Solo memiliki kekuatan tawar (bargaining power) yang lebih baik dalam penyediaan bahan baku,” imbuhnya.
Kerja Sama Antar Daerah (KAD): Temanggung hingga Bali
Sebagai langkah konkret penyediaan stok, Pemkot Solo mulai menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah daerah penghasil biji kopi berkualitas.
Hal ini bertujuan untuk memotong rantai distribusi yang panjang agar harga di tingkat coffee shop tetap kompetitif.
Kerja sama sudah mulai dijajaki mengingat kedekatan geografis dan minat pasar Solo yang tinggi terhadap kopi Temanggung.
Pemkot juga memetakan kebutuhan biji kopi asal Bandung dan Bali yang selama ini menjadi favorit konsumen di Solo.
“Kami sudah menghubungi Bupati Temanggung untuk kerja sama antardaerah. Kami juga mendengarkan masukan dari pelaku industri mengenai jenis biji kopi yang sesuai dengan pasar Solo agar ketersediaannya terjaga,” pungkas Respati. (ves)
Editor : Tri wahyu Cahyono