RADARSOLO.COM – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo matangkan perencanaan proyek penataan Koridor Yos Sudarso, dari simpang empat Nonongan hingga simpang empat Toko Kilat. Diperkirakan penataan koridor sepanjang 1,3 kilometer (km) ini butuh anggaran Rp 11 miliar. Nantinya, kawasan Nonongan akan dipercantik ala Koridor Gatot Subroto (Gastu).
Kepala DPUPR Kota Solo Nur Basuki menjelaskan, salah satu sasaran penataan Koridor Nonongan yakni mengubah peta jalan. Awalnya, Jalan Yos Sudarso berlaku dua arah. Setelah penataan rampung, diubah jadi satu arah dengan membongkar pulau jalan.
“Rencananya dibuat satu arah, tetapi masih menunggu pertimbangan dinas perhubungan (dishub). Kalau sesuai konsep itu, nanti pulau jalan di tengah akan dibongkar. Sehingga utilitas seperti lampu, tiang listrik, dan taman dihilangkan untuk memperlebar akses lalu lintas,” jelas Nur Basuki, Senin (12/1).
Hitung-hitungan DPUPR, anggaran yang dibutuhkan untuk penataan Koridor Nonongan mencapai Rp 11 miliar. Rincianya, Rp 9 miliar untuk kontruksi penataan, sedangkan sisanya Rp 2 miliar untuk penataan utilitas. Seperti pemindahan jaringan listrik yang sebelumnya di atas udara, menjadi sistem ducting alias di bawah tanah.
“Utilitas di sana akan dipindah menjadi model tanam atau bawah tanah seperti di Gatsu. Kemudian, kawasan itu ditata dengan pelebaran jalan dan pedestrian,” imbuhnya.
Andai pulau jalan dibongkar, segmen simpang Nonongan hingga simpang Kilat total lebarnya menjadi 12 meter. Kemudian pedestrian yang sebelumnya hanya selebar 1 meter, diperlebar lagi menjadi 3 meter untuk kenyamanan pejalan kaki.
Pelebaran pedestrian ini berkitan dengan upaya mempercantik Koridor Nonongan. Mengingat di atas pedestrian nanti akan dipasang kanopi tematik, lengkap dengan lampu sesuai tema penataan.
“Ini masih dimatangkan. Rancangan awalnya sudah ada, tinggal dimatangkan untuk DED (detailed engineering design) yang sedang disusun. Saat ini sedang koordinasi dengan dinas lainnya, yang berkaitan dengan rencana penataan. Sekaligus menimbang dampak dan perubahan pola mobilitas masyarakat saat penataan berlangsung,” beber Nur Basuki.
Sementara itu, Wali Kota Solo Respati Ardi sebelumnya sering menyinggung penataan Koridor Nonongan. Alasan penataan ini untuk menciptakan ruang kegiatan baru yang berpotensi mendongkrak ekonomi masyarakat. Sekaligus menjadi daya tarik pariwisata baru, yang bersinergi dengan Kampung Batik Kauman dan Koridor Gatsu.
“Anggarannya isnya Allah dari dananya warga Solo (APBD). Di tengah efisiensi ini, yang jelas untuk pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan budaya tetap diutamakan. Saya minta pelaku usaha bisa menyesuaikan. UMKM-nya nanti ada kurasi seperti di Gatsu,” ujar Respati. (ves/fer)
Editor : Niko auglandy