Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Polemik Jalan Yos Sudarso Jadi Satu Arah, Pemkot Solo Sebut Belum Final

Silvester Kurniawan • Selasa, 13 Januari 2026 | 17:34 WIB
Pemkot Solo masih mengkaji wacana Jalan Yos Sudarso menjadi satu arah. (M Ihsan/Radar Solo)
Pemkot Solo masih mengkaji wacana Jalan Yos Sudarso menjadi satu arah. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Rencana  penataan Koridor Nonongan di ruas Jalan Yos Sudarso, segmen Simpang Nonongan hingga Simpang Kilat, belum bisa melaju kencang. Pemkot Solo masih harus mengerem langkahnya sembari menunggu hasil kajian lalu lintas di tengah wacana perubahan arus dari dua arah menjadi satu arah.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo kini tengah menyusun analisis dampak lalu lintas (andalalin) untuk memastikan skema penataan tidak justru memindahkan kemacetan atau menimbulkan persoalan baru di pusat kota.

Kepala Dishub Solo Taufiq Muhammad menegaskan belum ada keputusan final soal perubahan arus. “Sudah kami bahas, tetapi belum diputuskan. Harus ada kajian dulu. Tidak bisa langsung satu arah atau dua arah begitu saja,” ujar Taufiq, Selasa kemarin (13/1).

Menurutnya, perubahan pola lalu lintas di kawasan padat seperti Nonongan tidak bisa dilihat dari satu variabel. Dishub tengah mengukur berbagai aspek, mulai dari volume kendaraan, pola pergerakan (traffic flow), hingga ketersediaan parkir.

“Kami tidak saklek satu arah atau dua arah. Nanti akan kami berikan beberapa alternatif. Yang dilihat bukan hanya arus kendaraan, tetapi juga parkir dan aktivitas di sepanjang koridor itu,” jelasnya.

Ruas Jalan Yos Sudarso dikenal sebagai salah satu titik terpadat di Solo. Pertokoan di kanan-kiri jalan membuat aktivitas bongkar muat berlangsung dari pagi hingga sore hari, memicu penyempitan badan jalan dan antrean kendaraan.

Situasi makin rumit karena Yos Sudarso juga menjadi jalur penghubung penting antara Solo dan Sukoharjo. Arus dari dan menuju Solo Baru, Grogol, hingga kawasan Gemblegan dan Tanjung Anom sering melintas di koridor ini, terutama saat terjadi pengalihan lalu lintas di pusat kota.

Dengan karakter tersebut, perubahan menjadi satu arah berpotensi menciptakan efek domino ke ruas-ruas lain jika tidak dihitung secara presisi. Kajian dishub inilah yang kini menjadi penentu nasib Detail Engineering Design (DED) penataan koridor.

Kepala DPUPR Kota Solo Nur Basuki menyebut desain teknis belum bisa difinalkan sebelum skema lalu lintas dipastikan.

“Rancangan awal sudah ada, tetapi DED belum final karena masih menunggu apakah nanti satu arah atau tetap dua arah. Ini berpengaruh pada seluruh desain penataan,” katanya.

Dalam perencanaan awal, penataan Koridor Yos Sudarso sepanjang 1,3 kilometer itu diperkirakan menelan anggaran Rp 11 miliar. Sebesar Rp 9 miliar dialokasikan untuk pekerjaan fisik seperti pembongkaran pulau jalan, pelebaran pedestrian, pemasangan kanopi, dan beautifikasi kawasan. Sisanya Rp 2 miliar untuk penataan utilitas dengan sistem tanam atau bawah tanah.

Namun, Nur Basuki menegaskan angka tersebut masih sangat tentatif. “Semua masih perencanaan awal. Kami masih harus berdiskusi dengan dishub dan OPD lain soal lalu lintas, parkir, sampai apakah pohon di median dipertahankan, dipindah, atau diganti,” bebernya.

Dengan posisi Yos Sudarso sebagai nadi lalu lintas sekaligus pusat aktivitas ekonomi, Pemkot dihadapkan pada pilihan krusial: menata kota tanpa mematikan denyutnya sendiri. (ves/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Andalalin #lalu lintas #satu arah #Jalan Yos Sudarso #pemkot solo #Penataan