RADARSOLO.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bergerak cepat untuk menghidupkan kembali area-area sepi di pasar tradisional yang selama ini kurang diminati pedagang. Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo kini tengah melakukan penghitungan nilai (appraisal) terhadap sejumlah titik strategis di 11 pasar tradisional guna ditawarkan kepada pihak ketiga.
Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus mengubah wajah pasar tradisional agar lebih relevan dengan tren ekonomi saat ini. Area yang disasar meliputi lantai dua yang mangkrak hingga sudut-sudut pasar yang tidak aktif.
“Dari 11 pasar tersebut, ada sebagian area yang sepi, misalnya lantai dua atau sudut tertentu. Kami sedang menghitung nilai sewanya. Penawaran akan dibuka secara transparan, baik dengan skema perbaikan bangunan maupun kondisi apa adanya,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo Arif Handoko, Jumat (16/1).
Beberapa lokasi yang masuk dalam daftar appraisal antara lain Pelataran Pasar Klewer, lantai 2 Pasar Kembang, lantai 2 Pasar Sidodadi, lantai 2 Pasar Ayu Balapan, serta lantai 2 Pasar Elpabes.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengarahkan agar pemanfaatan aset ini bisa mengikuti tren industri kreatif, seperti kedai kopi (coffee shop) yang sedang menjamur di Solo. Meski demikian, Respati menekankan bahwa jenis usaha yang masuk harus tetap selaras dengan karakter pasar tradisional.
"Kami ingin ada kegiatan menarik, terutama menjelang momentum Lebaran 2026. Di pelataran timur Pasar Klewer akan ada Festival Pagi, sementara lantai dua Pasar Kembang akan kita dorong menjadi pusat artificial flower atau bunga sintetis," beber Respati.
Penentuan nilai sewa oleh tim independen ini dilakukan beriringan dengan penjadwalan perawatan bangunan agar aset siap digunakan oleh penyewa baru. Pihak Pemkot Solo memastikan peluang kerja sama ini terbuka lebar bagi masyarakat umum maupun pelaku usaha kreatif.
Dengan masuknya unit usaha baru seperti kafe atau pusat hobi ke dalam ekosistem pasar, pemerintah berharap terjadi multiplier effect. Kehadiran pengunjung baru yang lebih muda diharapkan tidak hanya menghidupkan area yang disewa, tetapi juga berdampak positif bagi pedagang tradisional lainnya yang sudah ada di lantai bawah.
Langkah appraisal ini menjadi babak baru dalam manajemen aset daerah di Solo, di mana fungsi pasar tradisional mulai bergeser dari sekadar tempat transaksi kebutuhan pokok menjadi ruang publik multifungsi yang bernilai ekonomi tinggi. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno