Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Jawab Kritik Dewan, Wali Kota Solo Pastikan 11 Pasar Tradisional Tetap Sesuai Karakter Meski Disentuh Investor

Silvester Kurniawan • Minggu, 18 Januari 2026 | 17:35 WIB
Pasar Ayu salah satu yang akan disewakan kepada pihak ketiga agar lebih ramai. (M Ihsan/Radar Solo)
Pasar Ayu salah satu yang akan disewakan kepada pihak ketiga agar lebih ramai. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Wali Kota Solo Respati Ardi angkat bicara menanggapi polemik rencana pembukaan kran investasi di 11 pasar tradisional. Di tengah sorotan DPRD dan keresahan pedagang bawah, Respati menegaskan bahwa masuknya pelaku industri kreatif ke area "mati suri" di lantai atas justru dirancang sebagai mesin penggerak untuk mendongkrak omzet pedagang lama di lantai satu.

Pernyataan ini disampaikan sebagai jawaban atas kritik Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Solo Honda Hendarto, yang sebelumnya menyebut inovasi tersebut berisiko mubazir jika tidak memiliki kajian matang.

“Justru dengan upaya ini, kita ingin memaksimalkan dagangan kawan-kawan di lantai satu. Peremajaan lantai dua yang disesuaikan dengan market sekarang akan sangat menguntungkan. Kami tidak akan menggeser pedagang lama; malah kami upayakan supaya mereka lebih laris lagi,” tegas Respati Ardi, Minggu (18/1).

Saat ini, Pemkot Solo sedang menjalankan proses appraisal (penilaian aset) oleh tim profesional untuk menentukan nilai sewa yang kompetitif namun tetap memberikan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Respati menjamin bahwa investor tidak bisa asal masuk, melainkan harus tunduk pada aturan jenis usaha yang selaras dengan karakteristik pasar setempat.

Berikut adalah beberapa konsep integrasi yang tengah disiapkan:

Dinas Perdagangan Kota Solo tidak hanya sekadar menyewakan tempat, tetapi juga telah mengalokasikan anggaran perawatan bangunan. Tujuannya agar aset-aset yang ditawarkan memiliki daya tarik visual dan kenyamanan bagi para pelaku industri kreatif.

Menanggapi keluhan dewan yang merasa belum dilibatkan, Wali Kota memastikan bahwa hasil kajian dan appraisal ini nantinya akan menjadi bahan diskusi lanjutan. Ia meyakini bahwa kehadiran kegiatan baru di aset yang kurang produktif akan menciptakan efek bola salju bagi perekonomian lokal.

“Setiap pasar ada konsepnya masing-masing. Kami ingin menciptakan multiplier effect. Jika di atas ramai karena ada kegiatan kreatif atau kafe, otomatis arus pengunjung ke lantai bawah akan meningkat. Itulah esensi dari pasar yang modern namun tetap tradisional jiwanya,” pungkas Respati. (ves/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno