RADARSOLO.COM – Konflik internal yang kembali mencuat di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat menuai keprihatinan dari berbagai pihak.
Ketegangan yang melibatkan sejumlah unsur di dalam keraton tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada internal keluarga besar Kasunanan, tetapi juga berpotensi mencoreng citra keraton sebagai pusat pelestarian adat dan budaya Jawa.
Salah satu Putra Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XII, KGPH Puger, angkat bicara menanggapi situasi tersebut.
Dia menegaskan bahwa konflik berkepanjangan justru akan merugikan Keraton Surakarta secara keseluruhan, terutama di mata masyarakat luas yang selama ini memandang keraton sebagai simbol kebudayaan dan kearifan lokal.
“Keraton Surakarta itu bukan sekadar rumah atau simbol kekuasaan, tetapi pusat budaya dan sejarah. Kalau konflik terus dipertontonkan ke publik, yang dirugikan bukan hanya internal keluarga, tetapi juga nilai luhur keraton itu sendiri,” ujar KGPH Puger, Senin (19/1).
Menurutnya, perbedaan pandangan di lingkungan keraton merupakan hal yang wajar.
Namun, setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui musyawarah dengan mengedepankan tata krama, unggah-ungguh, serta norma adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
KGPH Puger menyayangkan apabila konflik justru diselesaikan melalui langkah-langkah yang memicu kegaduhan di ruang publik.
Dia menilai, persoalan internal semestinya dibahas dan diselesaikan secara internal pula, tanpa membuka konflik secara terbuka yang berpotensi menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
“Keraton memiliki aturan, tata adat, dan mekanisme penyelesaian masalah sendiri. Semua pihak seharusnya kembali pada pakem itu. Jangan sampai emosi dan kepentingan sesaat mengalahkan nilai budaya yang selama ini kita jaga,” tegasnya.
Lebih lanjut, KGPH Puger mengingatkan bahwa Keraton Surakarta Hadiningrat memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan dalam menjaga keharmonisan.
Pasalnya, keraton selama ini menjadi rujukan budaya, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Dia khawatir konflik yang berlarut-larut akan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap peran keraton dalam kehidupan sosial dan budaya Kota Solo.
“Keraton harus tetap menjadi payung budaya, bukan justru sumber kegaduhan. Kalau masyarakat sudah lelah melihat konflik, ini menjadi alarm bagi kita semua untuk segera berbenah,” ujarnya.
KGPH Puger juga menekankan pentingnya peran seluruh elemen keraton, mulai dari keluarga besar, sentana dalem, hingga abdi dalem, untuk bersama-sama menjaga suasana tetap kondusif.
Menurutnya, setiap pihak memiliki tanggung jawab yang sama dalam merawat warisan leluhur agar tetap utuh dan bermartabat.
Dia berharap ke depan seluruh pihak dapat menahan diri dan lebih mengedepankan dialog yang konstruktif.
Penyelesaian konflik, kata dia, harus mengutamakan kepentingan keraton sebagai lembaga adat, bukan kepentingan kelompok atau individu tertentu.
“Yang paling utama adalah keraton tetap lestari, tetap dihormati, dan tetap menjadi pusat kebudayaan. Itu amanat para leluhur yang tidak boleh kita abaikan,” pungkasnya. (atn)
Editor : Niko auglandy