RADARSOLO.COM – Tradisi unik mewarnai perayaan ulang tahun ke-79 Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, di Kota Solo.
Warga Suronalan, Kelurahan Pajang, menggelar acara bancakan weton ala kampung sebagai wujud rasa syukur dan kedekatan batin dengan sosok yang mereka juluki sebagai ‘Ibu Rakyat’.
Tanpa atribut politik maupun bendera partai, ratusan warga dan anak-anak berkumpul untuk mendoakan kesehatan sang Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut di tengah dinamika konstitusi negara.
Spontanitas Warga: 'Bancakan' Sebagai Simbol Doa
Acara yang digelar pada Jumat (23/1/2026) ini muncul dari inisiatif spontan warga setempat.
Mengambil semangat gotong royong, kaum ibu di Kampung Suronalan bahu-membahu menyiapkan bahan masakan tradisional sejak pagi hari.
Tokoh warga setempat, Muslikah, menjelaskan bahwa bancakan dipilih karena merupakan tradisi luhur masyarakat Jawa dalam memperingati hari lahir.
Melalui sedekah makanan, warga berharap doa-doa kebaikan bagi Megawati dapat dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
“Ini inisiatif spontan. Kami ingin memberi ucapan ulang tahun kepada Ibu Megawati dengan cara kami sendiri, yakni bancakan weton. Kami berdoa agar beliau tetap tangguh mengawal konstitusi dan demokrasi,” ujar Muslikah.
Menu Tradisional: Nasi Gudhangan dan Gereh Pethek
Tak kurang dari 300 warga dan anak-anak memenuhi lokasi acara.
Layaknya perayaan hari lahir di perkampungan Solo pada umumnya, hidangan yang disajikan sangat kental dengan nuansa tradisional.
Menu utama yang dibagikan meliputi:
• Nasi Tumpeng Gudhangan (Sayuran urap).
• Telur Rebus dan Gereh Pethek (Ikan asin).
• Peyek renyah dan aneka Jajanan Pasar.
Meski sederhana, suasana terlihat sangat khidmat. Warga menegaskan bahwa aksi ini murni gerakan moral dan budaya tanpa campur tangan struktur partai politik formal.
Menitipkan Harapan Penjaga Demokrasi
Bagi warga Suronalan, Megawati bukan sekadar tokoh politik, melainkan figur ibu yang kepemimpinannya telah teruji waktu.
Muslikah menambahkan bahwa di usia ke-79 ini, bimbingan Megawati masih sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia untuk memastikan arah demokrasi tetap pada jalurnya.
“Wujud syukur kami ya seperti ini, sesuai tradisi kampung. Tidak ada atribut politik karena ini murni kehendak warga untuk mendoakan keselamatan bagi Bu Mega sebagai Ibu Rakyat,” pungkasnya. (dam)
Editor : Damianus Bram