Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Polemik Bajaj versus Ojol: Tak Bisa Larang, Wali Kota Respati Ardi Pilih Perbanyak Rambu Pembatas Ruang Gerak

Silvester Kurniawan • Senin, 26 Januari 2026 | 17:35 WIB

Bajaj membawa penumpang di area Pasar Gede Solo, Senin (26/1). (Arief Budiman/Radar Solo)
Bajaj membawa penumpang di area Pasar Gede Solo, Senin (26/1). (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Wali Kota Solo Respati Ardi akhirnya mengambil sikap tegas namun terukur terkait memanasnya gesekan antara komunitas ojek online (ojol) dengan angkutan Bajaj Maxride. Meski mendapat desakan kuat dari para driver ojol, Pemkot Solo memastikan tidak akan menerbitkan SK Larangan operasional secara total, melainkan memilih jalur pengaturan dan pembatasan zona.

Dalam obrolan santai di Balai Kota Solo, Senin (26/1/2026), Respati mengaku sangat memahami keresahan para pengemudi ojol. Namun, secara regulasi, Pemkot tidak memiliki wewenang untuk langsung mematikan operasional angkutan tersebut.

Baca Juga: Nasib Ojol Solo di Ujung Tanduk: Tergilas Tarif Bajaj, Driver Tuntut Ketegasan Wali Kota

"Kalau SK Larangan itu tidak bisa. Secara aturan kami hanya bisa mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang sifatnya sebagai pengaturan dan arahan," tegas Respati.

Strategi "Bajaj Coret" di Jantung Kota Sebagai jawaban atas keresahan ojol, Pemkot Solo akan menempuh strategi teknis dengan memperbanyak pemasangan rambu "Bajaj Coret" (larangan melintas bagi bajaj) di sejumlah area vital. Langkah ini dianggap sebagai cara paling efektif untuk membatasi operasional bajaj tanpa harus menabrak aturan hukum yang lebih tinggi.

"Kami akan pasang rambu larangan di lebih banyak titik. Sementara, langkahnya baru seperti itu untuk membatasi ruang geraknya," tambah Wali Kota muda tersebut.

Baca Juga: DKT DPRD Solo Panas! Kawasan Bebas Rokok hingga Perlindungan Perempuan Jadi Sorotan

Sikap akomodatif pemkot ini tampaknya mulai diterima oleh komunitas ojol. Dalam audiensi di Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Solo pada hari yang sama, Ketua Gabungan Aksi Driver Solo Raya (Garda) Bambang Wijanarko menyatakan pihaknya realistis terhadap posisi pemerintah.

"Sikap kami tetap menolak selama izin mereka belum lengkap. Namun, jika memang SK Larangan sulit keluar, kami mendukung ruang gerak mereka dipersempit. Kami usulkan rambu larangan diperbanyak agar dampaknya tidak terus menggerus pendapatan harian kawan-kawan ojol," tutur Bambang.

Di sisi lain, manajemen Bajaj Maxride tetap percaya diri dapat eksis di Kota Bengawan. General Manajer Bajaj Maxride, Antonio Gratiano, melalui keterangan tertulisnya menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud "berperang" memperebutkan penumpang dengan ojol.

Baca Juga: Nasib SDN Tegalmuncar Boyolali: Cuma Punya 27 Siswa, tapi Jadi Satu-satunya Sekolah di Desa

Menurut Antonio, bajaj memiliki segmentasi unik sebagai angkutan wisata, penunjang industri perhotelan, hingga angkutan barang ringkas (shuttle). "Kami tetap melayani masyarakat karena dukungan dari warga Solo sangat besar. Kami bahkan membuka pintu kolaborasi bagi pengemudi ojol yang ingin bergabung menjadi mitra kami," pungkasnya.

Dengan rencana penambahan rambu larangan di berbagai titik strategis, Pemkot Solo berharap suhu panas di jalanan antara dua kelompok angkutan ini bisa segera mereda tanpa mengabaikan faktor ekonomi masing-masing pihak. (ves/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#surat edaran #angkutan #pemkot solo #ojek online (ojol) #bajaj