RADARSOLO.COM - Komunitas ojek online (ojol) di Kota Solo menyatakan dukungan terhadap rencana Pemerintah Kota Surakarta untuk menambah rambu larangan bajaj di sejumlah titik. Langkah tersebut dinilai sebagai solusi realistis di tengah belum bisanya pemerintah menerbitkan Surat Keputusan (SK) larangan operasional bajaj di Kota Bengawan.
Dukungan itu mengemuka dalam audiensi antara komunitas ojol dengan Pemerintah Kota Solo di Kantor Dinas Perhubungan, Senin (26/1/2026). Audiensi tersebut dihadiri perwakilan Satlantas Polresta Surakarta, dinas perhubungan, serta Wali Kota Solo.
Audiensi digelar setelah komunitas ojol sebelumnya menggelar aksi demonstrasi di depan Balai Kota Surakarta pada pertengahan pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, komunitas ojol menyampaikan keresahan terkait beroperasinya Bajaj Maxride yang dinilai belum mengantongi izin lengkap.
Ketua Gabungan Aksi Driver Solo Raya (Garda) Bambang Wijanarko menegaskan, sikap komunitas ojol masih sama, yakni menolak keberadaan Bajaj Maxride selama izin operasionalnya belum lengkap. Meski demikian, pihaknya memahami posisi pemerintah kota yang belum bisa mengeluarkan larangan penuh.
“Sikap kami tetap sama, kami menolak selama izinnya belum lengkap. Soal SK larangan memang menjadi harapan kami, tetapi kalau tidak bisa dikeluarkan, minimal ada pembatasan,” ujarnya.
Menurut Bambang, pembatasan ruang gerak bajaj dapat dilakukan melalui pemasangan rambu larangan di berbagai titik strategis Kota Solo. Dengan begitu, operasional bajaj tidak bersinggungan langsung dengan pengemudi ojol di kawasan padat aktivitas.
“Kami mendukung jika ruang gerak bajaj dipersempit dengan pemasangan rambu larangan bajaj di berbagai titik di Solo,” katanya.
Dia berharap rencana tersebut segera direalisasikan sebagai bentuk respons pemerintah atas keresahan para pengemudi ojol. Sebab, sejak Bajaj Maxride beroperasi, tidak sedikit pengemudi ojol yang merasakan dampak langsung berupa penurunan pendapatan harian.
“Kami usulkan agar rambu larangan bajaj diperbanyak. Kalau memang mau beroperasi di Solo, monggo silakan, tetapi harus berizin resmi atau diatur di area tertentu,” tambahnya.
Sementara itu, manajemen Bajaj Maxride memastikan tetap melanjutkan layanan operasional di Kota Solo. General Manager Bajaj Maxride, Antonio Gratiano, menyatakan pihaknya menerima banyak tanggapan positif dari masyarakat.
Dia juga menegaskan bahwa segmentasi pasar Bajaj Maxride berbeda dengan ojek online sehingga keduanya bisa berjalan berdampingan. Layanan bajaj, kata dia, lebih difokuskan untuk shuttle kawasan wisata, perhotelan, hingga angkutan barang.
“Kami akan tetap memberikan layanan operasional untuk masyarakat Kota Solo. Dari pemantauan kami, banyak masyarakat yang mendukung layanan ini,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Antonio juga menyebut pihaknya membuka peluang kemitraan bagi pengemudi ojol yang ingin bergabung dengan Bajaj Maxride. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy