Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Tembang Asmarandhana Dwija Djiwa Karya Peni Candra Rini: Wujudkan Mimpi Mangkunegara X, Tiap Larik Bak Doa untuk Yang Maha Kuasa

Silvester Kurniawan • Kamis, 29 Januari 2026 | 08:10 WIB
DEDIKASI: Peni Candra Rini tampil saat Tingalan Jumenengan SIJ KGPAA Mangkunagoro X, Selasa (27/1).
DEDIKASI: Peni Candra Rini tampil saat Tingalan Jumenengan SIJ KGPAA Mangkunagoro X, Selasa (27/1).

RADARSOLO.COM - Penampilan seniman multitalenta Peni Candra Rini saat Tingalan Jumenengan SIJ KGPAA Mangkunegara X, Selasa siang (27/1) memberi nuansa berbeda.

Atmosfer Pendapa Pura Mangkunegaran mendadak kental nuansa magis, kala alunan spectral sound berpadu padan dengan utaian kata yang dipanjatkan bak doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Tampil sekira pukul 11.00, Peni Candra Rini yang bergelar Raden Nganten Tumenggung (R.Ngat T.) berhasil memukau para tamu undangan yang hadir dalam peringatan kenaikan tahta Gusti Bhre tersebut.

Perempuan yang memiliki gelar doktoral dalam dunia seni itu membuka penampilannya dengan ucapan doa dan harapan, sebelum mengajak seluruh tamu undangan masuk dalam nuansa lebih dalam melalui aksi seperti Jacob Collier, musisi asal Inggris yang sedang naik daun karena kepiawaiannya dalam menyajikan The Audience Choir (Sydney 2025, Red). 

Sentuhan Peni tak kalah magis dengan apa yang dilakukan Jacob Collier. Sebab perempuan kelahiran 1983 itu mampu mengajak seluruh tamu undangan untuk mengikuti instruksinya, menuju satu nada yang kompak dan dilafalkan dalam kalimat Mang..ku..ne..ga..ran. 

“Waktu itu Kanjeng Gusti (MN X) menyampaikan mimpinya (keinginannya, Red) kepada saya, tentang mengajak tamu kehormatan untuk bervokal bersama di Pendapa Ageng Mangkunegaran. Itu disampaikan akhir Desember. Jadi, ini adalah impian kenjeng gusti yang saya wujudkan dalam karya Asmarandhana Dwija Djiwa,” kata Peni kepada Jawa Pos Radar Solo usai tampil. 

Kenangan akan pentas itu begitu kuat diingatan seluruh pengunjung. Bagaimana tidak? Audience choir kala itu begitu menggema di tiap sudut Pendapa Pura Mangkunegaran, sembari sang maestro mulai membacakan Serat Asmarandhana Dwija Djiwa yang terdengar sakral di telinga kalayak siang itu.

Atmosfer di dalam Pura Mangkunegaran pun terasa semakin dalam, saat perpaduan audience choir, lirik syarat makna, hingga musik gamelan dan musik modern yang ia sebut spectra sound itu membaur menjadi satu kesatuan nan paripurna.

Momen 10 menitan itu ibarat katarsis yang memberikan pemurnian diri, hingga perasaan lega bagi setiap pendengarnya.

“Saya ingin tamu kehormatan, Kanjeng Gusti ikut melukiskan memorinya. Melambungkan harapan dan doanya. Tidak hanya untuk Mangkunegaran dan Kanjeng Gusti, tetapi juga saya sendiri. Sehingga setiap jiwa yang terlibat dalam sonic meditasi ini merasa terlibat dan menjadi bagian dalam doa,” imbuh Peni. 

Perform memukau ini sudah diramu Peni sejak tahun lalu. Mulanya, ia cukup gelisah tentang perkembangan kesenian gamelan di era saat ini. 

Lalu tergugah untuk memadukan spectral sound dari suara gamelan dengan siklus kehidupan manusia Jawa. Melalui macapat yang isinya 11 tembang, dari Maskumambang hingga Pocung

Keresahan dan kegelisahan pribadi yang dirasakan itu makin menguatkan Peni untuk menuliskan serat berjudul Asmarandhana Dwija Djiwa.

Terlebih karena beberapa tahun sebelumnya, ia diberi gelar kebangsawan oleh Praja Mangkunegaran di era Mangkunegara X.

Dari sana, Peni mendapat restu untuk menuliskan serat sendiri yang dibawakan lewat musikalitas kelas wahid. Memadukan notasi slendro dan pelog, mikritonal, dan instrumen barat yang hasilnya memukau para hadirin siang itu. 

“Saya minta izin ke Kanjeng Gusti untuk membuat karya baru. Karena saya mendapatkan seperyi komisi dari Gaudeamus (Belanda). Saya minta izin menulis serat dan musik baru. Komposisi ini dimainkan dengan musik yang tidak lazim, namun memberikan nuansa baru yang benar-benar berbeda,” ujarnya.

Asmarandhana Dwija Djiwa ini bikin Peni puas dan bangga. Apalagi respons masyarakat cukup bagus. Ditambah dukungan penuh dari Pura Mangkunegaran.

Inilah yang menyuntik motivasi Peni hingga pede (percaya diri) menampilkan Asmarandhana Dwija Djiwa di ajang Gaudeamus Festival 2026 di Belanda, 12 September mendatang. 

“Ternyata ini selaras dengan atmosfer di Pendapa Pura Mangkunegaran saat dimainkan dengan gamelan kontemporer. Ini sejalan dengan semboyan culture future dan bisa membawa Praja Mangkunegaran ke panggung global,” bebernya. (ves/fer)

Editor : Niko auglandy
#Pura Mangkunegaran #Mangkunegara X