Solo Bidik Target 60 Persen Cek Kesehatan Gratis, Wali Kota Respati: Lampaui Target Nasional!
Silvester Kurniawan• Senin, 2 Februari 2026 | 17:53 WIB
Cek pelayanan kesehatan gratis masyarakat Kota Solo. (M Ihsan/Radar Solo)
RADARSOLO.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menetapkan target ambisius untuk pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang tahun 2026. Wali Kota Solo Respati Ardi menginstruksikan jajaran kesehatan untuk mencapai angka 60 persen cakupan dari seluruh populasi masyarakat Kota Bengawan, jauh di atas target minimal dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Instruksi ini menjadi sinyal kuat bahwa kesehatan preventif menjadi prioritas utama pembangunan di Solo. Sebagai perbandingan, Kemenkes sendiri hanya mematok target realisasi sebesar 46 persen untuk wilayah Solo pada tahun ini.
"Kami ditargetkan oleh Kemenkes 46 persen, tetapi kami punya target sendiri sebesar 60 persen yang harus tercapai di 2026 ini," tegas Respati Ardi, Senin (2/2).
Keberhasilan Tahun Sebelumnya Optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Sepanjang tahun 2025, Pemkot Surakarta sukses melampaui target nasional. Selain pemeriksaan rutin, Solo juga gencar melakukan inovasi pemeriksaan, termasuk skrening human papilloma virus (HPV) DNA untuk mendeteksi dini virus penyebab kanker serviks yang telah menyasar 3.500 warga.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo Retno Erawati Wulandari menjelaskan bahwa layanan CKG kini dapat diakses dengan mudah di 17 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan. Masyarakat cukup memanfaatkan teknologi digital untuk melakukan pendaftaran dan pemantauan hasil.
"Prosedurnya menggunakan aplikasi Satu Sehat Mobile. Verifikasi data identitas bisa dilakukan lewat Identitas Kependudukan Digital (IKD) atau langsung di fasilitas kesehatan (faskes). Nanti akan muncul notifikasi untuk pemeriksaan kesehatan gratis," jelas Retno.
Layanan ini mencakup berbagai kategori usia dan bertujuan utama untuk memetakan faktor risiko penyakit tidak menular secara dini. Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, masyarakat diharapkan dapat melakukan perubahan gaya hidup atau penanganan medis yang diperlukan sebelum kondisi memburuk.
"Harapannya, masyarakat bisa lebih tahu faktor risiko penyakitnya lebih dini sehingga bisa dikelola lebih awal dan tidak terjadi risiko medis yang lebih lanjut di masa depan," pungkas Retno. (ves/bun)