RADARSOLO.COM- Kawasan Pasar Gede Solo bukan hanya sebagai pusat perdagangan tradisional.
Lokasi ikonik menjadi barometer visual toleransi di Kota Solo.
Setiap momentum hari besar keagamaan, warna-warna khas menghiasi kawasan Pasar Gede.
Saat Imlek, lampion merah mendominasi. Menjelang Idul Fitri, warna hijau tampil mencolok.
Sementara pada Natal, kombinasi hijau, putih, kuning, dan merah menghiasi sudut-sudut kawasan.
Begitu pula ketika Nyepi, Galungan, maupun Kuningan.
Tak banyak yang mengetahui bahwa pemasangan lampion dan penyesuaian warna hari raya di Pasar Gede memiliki sejarah panjang.
Awalnya, pada 2005, lampion hanya dipasang di depan Kelenteng Tien Kok Sie hanya sebanyak 80 buah.
Namun seiring waktu, masyarakat sekitar mulai ikut terlibat dan mengusulkan agar lampion dipasang lebih luas.
Kemudian, di tahun 2006, pemasangan lampion bertambah banyak dan tersebar di sekitar Pasar Gede hingga Sudiroprajan.
Usulan tersebut awalnya disikapi dengan hati-hati oleh pihak kelenteng. Trauma pembatasan ekspresi pada masa Orde Baru masih membekas.
Namun setelah melihat respons masyarakat yang positif, pemasangan lampion pun diperluas.
Sejak saat itu, lampion merah menjadi penanda visual khas Imlek di Kota Solo.
Warna merah dipilih karena melambangkan kegembiraan dan suasana suka cita dalam perayaan.
Seiring berjalannya waktu, muncul kesadaran bersama bahwa ruang publik tidak hanya milik satu perayaan.
Jika Imlek memiliki identitas visualnya sendiri, maka hari raya lain pun layak memiliki ciri khas yang sama.
Dari sinilah kemudian muncul penyesuaian warna lampion dan ornamen sesuai dengan hari raya yang sedang dirayakan.
Tetenger tersebut berkembang menjadi simbol toleransi dan keberagaman warga Solo.
Ruang publik yang sama digunakan bergantian untuk merayakan hari besar keagamaan yang berbeda, dengan identitas visual masing-masing. (agna)
Editor : Tri wahyu Cahyono